Mempercepat Browser Untuk Internet Lebih Cepat


Opera

Caranya:

1. Buka Browser OPERA anda

2. Pada alamat browser ketikkan opera:config dan kemudian enter

3. Klik Performance

4. Untuk settingan maksimal dari bandwith limit, maka ubah settingan dengan isi berikut:

* Max Connection Server = 10

* Max Connection Total = 64

* Network Buffer Size = 64

* Centang No Connection Keep Alive

* Centang Non-Compliant 100 Server Continue

5. Lalu klik Save, maka akan ada perintah untuk merestart OPERA

6. Tutup OPERA dan buka kembali

7. Tambahan lagi aktifkan opera turbonya caranya sebagai berikut:

# ketikan berikut pada adressbar opea: http://www.opera.com/portal/turbo/    terus enter, sekarang opera turbonya sudah aktif

setelah cara di atas dilakukan rasakan perbedaanya…

 

Google Chrome

Caranya:

Untuk mempercepat chrome di Windows 7 atau Vista :
1. Untuk vista download terlebih dahulu directX 11 untuk mengaktifkan fitur direct2d dan directWrite, agar chromenya lebih kenceng.

2. kemudian klik kanan shortcut google chrome (ada pada desktop, taskbar, atau start di menu), kemudian klikproperties

3. Di tab “shortcut”, di bagian “target” ada tulisan seperti di bawah ini:

[drive]:\Users\[username]\AppData\Local\Google\Chrome\Application\chrome.exe

ganti, jadinya seperti di bawah ini:

[drive]:\Users\[username]\AppData\Local\Google\Chrome\Application\chrome.exe -enable-accelerated-compositing -enable-gpu-rendering -enable-video-layering -enable-webgl -enable-accelerated-2d-canvas -enable-fastback -enable-aero-peek-tabs

4. Untuk nmencoba apakah sudah benar atau tidak masukkan kalimatnya di windows 7, jalankan chrome, new tab 2 kali, kemudian liat taskbar. Chromenya harusnya jadi banyak juga tab previewnya

Mempercepat Google Chrome untuk windows xp:

1. Bukalah folder dimana google chrome berada
salah satu caranya:
klik kanan shortcut google chrome, klik properties, akan muncul tulisan seperti di bawah ini:

[drive]:\Documents and Settings\[username]\Local Settings\Application Data\Google\Chrome\chrome.exe

copy paste kalimat diatas tanpa chrome.exe

jadinya seperti ini:

“[drive]:\Documents and Settings\[username]\Local Settings\Application Data\Google\Chrome\”

2. Buat new_text_file di folder tersebut, kasih nama chrome.bat (bukan .txt)
3. klik kanan chrome.bat, klik edit
4. Tulis kalimat ini:

“chrome.exe -enable-accelerated-compositing -enable-gpu-rendering -enable-video-layering -enable-webgl -enable-fastback”

5. Save file, klik kanan chrome.bat yang sudah diubah tadi, klik copy
6. Di desktop klik kanan di daerah kosong, klik “paste shortcut
7. Shortcutnya di desktop kalau mau bisa direname
8. Cara ini untested, tapi bisa dicoba saja.

Cara kedua:
1. Buka Google Chrome.
2. Masuk menu Options – Preference.
3. Klik tab Under the Hood.
4. Di Privacy section, Hilangkan centangan Use DNS pre-fetching to improve page load performance.
5. Klik Close dan Restart Google Chrome
Cara ketiga:
Anda dapat mempercepat browsing di google chrome saat mengunjungi situs dengan konten grafis yang besar dengan mengaktifkan Hardware Acceleration.

Untuk Apa Mengaktifkan Hardware Acceleration di Google Chrome?

Dengan mengaktifkan Hardware Acceleration akan berguna ketika kita membuka banyak tab atau mengunjungi situs dengan banyak unsur gambar dan flash yang lumayan berat, media yang besar, sehingga hardware anda seperti VGA card dan processor akan dimaksimalkan agar dapat membuka situs yang memiliki grafis berat tersebut dengan lancar.
Cara mengaktikan Hardware Acceleration di Google Chrome.

Untuk mengaktifkan Hardware Acceleration di Google chrome buka tab baru lalu ketikkan perintah berikut: about:flags

Jika browser sudah cepat, maka untuk mempercepat download bisanya juga lebih mudah.

Kemudian cari point berikut :
-GPU Accelerated Compositing
-GPU Accelerated Canvas 2D
-Web Page Prerendering
Untuk settingan default, poin-poin tersebut akan di disable, untuk mengaktifkannya klik pada link Enable

Setelah setting selesai anda bisa restart google chrome anda dan rasakan perbedaannya..

 

Safari

Caranya:

 

1. Mempercepat User Interface

Menurunkan penggunaan CPU dengan mematikan beamsync di Terminal tulis :

sudo defaults write /Library/Preferences/com.apple.windowserver Compositor -dict deferredUpdates 0

 

2. Melewati Verifikasi setiap ME-MOUNT File DMG

Saat ingin me-mount file, selalu ada verifikasi terlebih dahulu.

Bila filenya kecil, akan memakan waktu sebentar, tapi jika filenya besar akan memakan waktu yang lama, untuk melewati nya, di Terminal tulis :

sudo defaults write com.apple.frameworks.diskimages skip-verify true.

 

3. Mempercepat Safari

Anda ingin membuat browser di Mac tersebut menjadi kira-kira 4 lebih cepat, di Terminal tulis :

sudo defaults write.com.apple.Safari WebKitInitial-TimedLayoutDelay –float 0.

 

4. Menghilangkan Efek Zoom

Selain mempercepat GUI, menghilangkan efek zoom juga mempercepat performa system. Di Terminal tulis :

sudo defaults write.com.apple.finder ZoomRects –boolean NO.

 

5. Membersihkan Icon Bookmark Safari

Sama seperti sebelumnya, membersihkan icon safari juga bisa mempercepat performa. Di Terminal tulis :

find $HOME/Library/Safari/Icons –type f atime +30 –name “* .cache” –print.

 

 

Mozilla

Caranya:

1. Aktifkan Pipelining

Biasanya browser bekerja dengan mengirimkan permintaan kepada server dan menunggu respon sebelum melanjutkan proses. Pipelining adalah sebuah teknik lebih agresif yang memungkinkan browser untuk mengirimkan beberapa permintaan sekaligus sebelum menerima respon apapun untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengunduh isi halaman. Untuk mengaktifkan fungsi ini ketik “about:config” pada kotak alamat, klik-ganda pada “network.http.pipelining” dan “network.http.proxy.pipelining” agar nilainya berubah menjadi “true” kemudian klik-ganda pada “network.http.pipelining.maxrequest” dan jadikan nilainya “8″.

 

2. Render dengan Cepat

Situs yang besar dan rumit bisa memakan waktu untuk diunduh. Firefox tidak ingin membuat Anda menunggu, jadi dengan pengaturan standar Firefox akan langsung menampilkan apa yang ia terima setiap 0,12 detik. Walaupun hal ini membuat browser terkesan lebih cepat, rendering ulang yang dilakukan terus menerus meningkatkan waktu total yang dibutuhkan untuk menampilkan halaman, kita dapat mengurangi jumlah rendering ulang untuk meningkatkan kinerja.

Ketik “about:config” dan tekan [ENTER], kemudian klik kanan pada tampilan utama dan kemudian pilih “New > Integer”. Ketik “content.notify.interval” sebagai nama preferensi Anda, klik “ok”, masukkan “500000″ (500 ribu) dan klik “ok” kembali.

Klik kanan lagi pada tampilandan pilih “New > Boolean”. Kali ini buat nilai disebut “content.notify.ontimer” dan atur menjadi “True” untuk menyelesaikan tugas Anda.

 

3. Loading Lebih Cepat

Jika Anda tidak menggerakkan tetikus atau menyentuh keyboard selama 0,75 detik, Firefox akan masuk ke dalam mode “low frequency interrupt” yang artinya interface-nya menjadi kurang responsif tetapi bisa me-load halaman lebih cepat.

Ketik “about:config” dan tekan [ENTER], klik kanan pada tampilan dan pilih “New > Integer”. Ketik “content.switch.threshold”, klik “ok”, masukkan “250000″ (seperempat detik) dan klik “ok” untuk menyelesaikan.

 

4. Tidak Ada Interupsi

Anda bisa melakukan langkah lebih jauh dengan memberitahu Firefox untuk sama sekali mengabaikan user interface events sampai halaman selesai diunduh. Memang cara ini agak ekstrim karena Firefox bisa menjadi tidak responsif selama beberapa waktu, tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba apakah efeknya positif untuk Anda.

Ketik “about:config”, tekan [ENTER] dan klik kanan, pilih “New > Boolean”. Ketik “content.interrupt.parsing”, klik “ok”, atur nilainya menjadi “False” dan klik “ok”.

 

5. Tingkatkan Ukuran Cache

Ketika berselancar Firefox akan menyimpan gambar dan skrip pada memory cache lokal di mana Anda bisa mempercepat pengambilan data jika mengunjungi situs yang sama kembali. Jika Anda memiliki RAM yang besar (2GB atau lebih), biarkan Firefox berjalan lebih lama sehingga mengunjungi kembali halaman-halaman situs akan lebih cepat, terutama dengan cache yang besar.

Ketik “about:config” dan tekan [ENTER], kemudian klik kanan dan pilih “New > Integer”. Ketik “browser.cache.memory.capacity”, klik “ok”, masukkan “65536″ dan klik “ok”, kemudian “restart” browser untuk mendapatkan cache yang baru dan lebih besar.

 

6. Aktifkan TraceMonkey

TraceMonkey adalah engine Javascript baru dari Mozilla yang super cepat, dalam beberapa benchmark bahkan mencetak nilai 40x lebih besar dibandingkan versi saat ini. Tracemonkey mungkin saat ini memang dalam tahap pengembangan dan masih sedikit buggy, tetapi jika Anda berkeberatan menggunakan perangkat lunak dalam tahap pengembangan, dapatkan nightly build terbaru dari (ftp://ftp.mozilla.org/pub/firefox/nightly/latest-trunk/). Versi beta pertama Firefox 3.1 juga dijadwalkan untuk dikeluarkan bulan ini juga.

Ketik “about:config” pada kotak alamat dan tekan [ENTER]. Ketik “JIT” pada kotak filter, lalu klik ganda “javascript.options.jit.chrome” dan “javascript.options.jit.content” untuk mengubah nilainya menjadi “true”. Selamat!, kini Anda telah menggunakan engine Javascript mutakhir Firefox.

 

7. Kompres Data

Jika Anda memiliki koneksi internet lambat, mungkin Anda merasa bahwa Firefox tidak berkinerja baik. Itu tidak sepenuhnya benar! Instalasikan toonel.net dan aplikasi Java ini akan mengambil alih trafik internet Anda melalui server-nya sendiri. Semua data yang melalui server Toonel lalu dikompres sehingga data yang perlu diunduh browser lebih sedikit.

Bahkan, Toonel juga bisa mengompres gamar JPEG, tetapi tentunya berdampak pada penurunan kualitas gambar. Tips ini berguna untuk memangkas jumlah data yang dikirimkan, bermanfaat jika memiliki akun internet yang terbatas per bulan atau saat menggunakan koneksi internet yang lambat seperti GPRS.Install Add-On penting :

 

1. Adblock Plus

Untuk blok banner ataupun alert yang dirasa mengganggu aktifitas browsing kita, dapat didownload disini

 

2. Faster Fox

Untuk mempercepat kinerja browsing, dan yang paling mantap dari aplikasi ini adalah Auto Loading Next Page, dapat didownload disini

3. Memory Fox

Untuk membatasi penggunana memory kompie saat kita berselancar dengan mozilla (Mozilla kan dikenal sebagai browser Handal tetapi sangat banyak menggunakan memory saat aplikasi dijalankan!!), dapat didownload disini

*dan Add-On lainnya, dapat dlihat sendiri sesuai dengan kebutuhan pengguna browser.

Browsing Lebih Cepat dalam Jaringan Wifi dengan Trik Cmd


Oleh: Mochammad Rif’an

Trik ini lebih efisien dibandingkan menggunakan software, penggunaan software hanya meningkatkan browsing saja, untuk download tetap normal tanpa ada perubahan, contoh softwarenya “NetCut”. kelemahan software ini sering di anggap oleh Anti Virus sebagai Virus Trojan. daripada repo-repot mematikan anti virus pake cara ini saja lebih aman dan mudah proses download bisa berlipat ganda kecepatanya, ow iya jangan lupa pake IDM ya biar tambah mantep downloadnya. maaf bro tidak ada screenshootnya maklum tidak bisa meload gambar.  langsung saja prakteknya mudah ko’:

  1. buka cmd: klik start, ketikan cmd pada kotak search
  1. Maka akan muncul tampilan cmd
  1. Ketikan ipconfig /all kemudian enter
  2. akan muncul tampilan list dalam cmd
  1. Cari DNS SERVER catat DNS SERVER-nya contoh: 192.168.10.252
  2. buka cmd lagi ketikan perintah “ping –l 500 DNS SERVER –t” ingat ketik tanpa tanda kutip “_”. 500 berarti perintah kecepatann yang kita inginkan 500 berarti sama dengan 5 mb/s bisa diganti sesuka hati. contoh: ping -l 500 192.168.10.252 -t
  3. maka akan muncul tampilan cmd proses. ingat cmd prosesnya jangan ditutup minimize saja.
  1. Sekarang browsing dan download anda menjadi lebih cepat
  2. sekian terimakasih info dari saya, semoga ini bermanfaat. Tapi ingat jangan berlebihan kasihan yang lainya.

Filsafat Sejarah Oswald Spengler


 

  1. Biografi Singkat Oswald Spengler

Oswald Spengler lahir di Blankenburg (Harz) di Jerman Tengah pada tahun 1880, anak tertua dari empat anak, dan satu-satunya anak laki-laki. Ayahnya, yang semula teknisi pertambangan dan berasal dari garis panjang mineworkers, adalah seorang pejabat di pos Jerman birokrasi, dan ia memberikan keluarganya dengan sederhana namun nyaman di rumah kelas menengah.

Ketika ia berusia sepuluh tahun keluarganya pindah ke kota universitas Halle. Spengler menerima pendidikan Gymnasium klasik, mempelajari bahasa Yunani, Latin, matematika dan ilmu alam. Disini juga ia mengembangkan afinitas kuat untuk seni – khususnya puisi, drama, dan musik.

Spengler pada umur 21 tahun. Spengler mempelajari bidang studi budaya klasik, matematika, dan ilmu-ilmu fisik. Pendidikan universitasnya sebagian besar dibiayai oleh sebuah warisan dari almarhum bibi. Ia gagal dalam ujian pertamanya, tetapi ia lulus di ujian kedua pada tahun 1904 dan kemudian ia menulis disertasi sekunder yang diperlukan untuk memenuhi syarat sebagai guru sekolah tinggi. Kemudian ia pindah ke Düsseldorf dan akhirnya Se Hamburg. Dia mengajar matematika, fisika, sejarah dan sastra jerman.

Dia menetap di Munich, di sana untuk menjalani kehidupan sarjana yang independen / filsuf. Dia mulai menulis sebuah buku pengamatan politik.  Awalnya untuk menjadi berjudul Konservatif dan Liberal, itu direncanakan sebagai sebuah eksposisi dan penjelasan tentang tren saat ini di Eropa – yang mempercepat perlombaan senjata, Entente “pengepungan” di Jerman, sebuah suksesi krisis internasional, meningkatkan polaritas dari bangsa-bangsa – dan mana mereka memimpin. Namun pada akhir 1911 ia tiba-tiba tersentak oleh gagasan bahwa peristiwa hari hanya dapat ditafsirkan dalam “global” dan “total-budaya” istilah. Dia melihat Eropa sebagai berbaris pergi untuk bunuh diri, langkah pertama menuju kematian terakhir budaya Eropa di dunia dan dalam sejarah.

Perang Besar 1914-1918 hanya membenarkan dalam pikirannya keabsahan tesis yang sudah dikembangkan. Pekerjaan yang direncanakannya terus meningkat dalam lingkup yang jauh melampaui batas aslinya.

Pada tahun 1922 Spengler mengeluarkan edisi revisi jilid pertama yang berisi koreksi kecil dan revisi, dan tahun setelah melihat penampilan jilid kedua, dia kemudian puas dengan pekerjaan, dan semua tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan.

Dengan memnanfaatkan pendekatan physiogmatic, Spengler yakin akan kemampuannya untuk memecahkan teka-teki sejarah[1].

  1. Teory gerak sejarah

Pandanganya terhadap gerak sejarah didasarkan atas kehidupan organis yang dikuasai oleh hokum siklus yaitu geraklingkar. Oleh karena itu ia dapat meramalkan kebudayaan eropa yang tela mencapai kejayaanya pasti akan mengalami keruntuhanya. Karena menurutnya kebudayaan eropa sudah mencapai usia tua dan sesuai dengan hokum siklus akan segera runtuh[2].

Menurut Ankersmit, umumnya  terdapat  tiga hal yang  menjadi  kajian  filsafat   sejarah  spekulatif,  yaitu pola  gerak  sejarah,  motor  yang menggerakkan proses sejarah, dan tujuan gerak sejarah[3]. Kini  mari  kita  beralih  pada  uraian  tentang seorang filosof sejarah lain  yaitu Oswald Spengler(meninggal pada  tahun 1936 ). Karya Oswald Spengler yang berpengaruh adalah Der Untergang des Abendlandes (Decline of the West) atau Keruntuhan Dunia Barat/Eropa. Spengler meramalkan keruntuhan Eropa. Ramalan itu didasarkan atas keyakinan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam. Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan, manusia dan alam semesta. Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai wujud dari fatum. Hukum itu tampak pada siklus:

No Alam Manusia Tumbuhan Hari Kebudayaan
1 Musim semi Masa pemuda Masa pertumbuhan Pagi Pertumbuhan
2 Musim panas Masa dewasa Masa berkembang Siang Perkambangan
3 Musim rontok Masa puncak Masa berbuah Sore Kejayaan
4 Musim dingin Masa tua Masa rontok Malam Keruntuhan

Tiap-tiap masa pasti datang menurut waktunya, itulah keharusn alam yang mesti terjadi. Seperti halnya historical materialism, paham Spengler tentang kebudayaan pasti runtuh apabila sudah melewati puncak kebesarannya. Oleh sebab itu keruntuhan suatu kebudayaan dapat diramalkan terlebih dahulu menurut perhitungan. Suatu kebudayaan mendekati keruntuhan apabila kultur sudah menjadi Civilization (kebudayaan yang sudah tidak dapat tumbuh lagi). Apabila kultur sudah kehilangan jiwanya, maka daya cipta dan gerak sejarah akan membeku.

Gerak sejarah tidak bertujuan sesuatu kecuali melahirkan, membesarkan, mengembangkan, meruntuhkan kebudayaan. Spengler menyelidikinkebudayaan Barat dan setelah membandingkan kebudayaan Barat dengan sejarah kebudayaan-kebudayaan yang sudah tenggelam, ia berkesimpilan:

a.       Kebudayaan Barat sampai pada masa tua (musim dingin), yaitu civilization

b.      Sesudah civilization itu kebudayaan Barat pasti akan runtuh

c.       Manusia Barat harus dengan bersikap berani menghadapi keruntuhan itu

d.      Mempelajari sejarah tujuannya ialah untuk mengetahui suatu kebudayaan didiagnose seperti seorang dokter menentukan penyakit si penderita. Nasib kebudayaan dapat diramalkan, sehingga untuk seterusnya kebudayaan itu dapat menentukan sikap hidupnya.

Karya Oswald Spengler

Pemikiran sejarah visioner dari filusuf sejarah Oswald Spengler (1880-1836) tertuang dalam karya monumental yaitu Decline of the West (keruntuhan dunia Barat). Karya yang diterbitkan pada 1918.

Dalam karyanya, Spengler meyakini adanya kesamaan dasar dalam sejarah kebudayaan besar dunia, sehingga memungkinkan ia dapat memprediksi secara umum tentang jalannya sejarah masa depan (the course of future history). Predeksi Spengler terutama menyatakan bahwa kebudayaan Barat telah menemui ajalnya (doom), setelah ia melihat awal dan berakhirnya kebudayaan Barat (the beginning of the end). Ia percaya bahwa setiap kebudayaan berlangsung melalui sebuah siklus mirip dengan siklus kehidupan organisme. Kebudayaan dilahirkan, tumbuh kuat (grow strong), melemah (weaken), dan akhirnya mati (die)[4].

Oswald Spengler yang dilahirkan di Blankenburg, Jerman Tengah  berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahun. Dalam karya monumentalnya Spengler meramalkan keruntuhan Eropa. Ramalan itu didasarkan atas keyakinan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam (fatum), yang dalam bahasa Jerman disebut schiecksal.

Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan, manusia dan alam semesta. Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai wujud dari fatum. Fatum adalah hukum alam yang menjadi dasar segala hukum kosmos, setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi dan terulang lagi.

Tiap-tiap masa pasti datang menurut waktunya, Itulah keharusan alam yang mesti terjadi. Seperti halnya historical materialism, paham Spengler tentang kebudayaan pasti runtuh apabila sudah melewati puncak kebesarannya. Oleh sebab itu keruntuhan suatu kebudayaan dapat diramalkan terlebih dahulu menurut perhitungan. Suatu kebudayaan mendekati keruntuhan apabila kultur sudah menjadi civilization (kebudayaan yang sudah tidak dapat tumbuh lagi). Apabila kultur sudah kehilangan jiwanya, maka daya cipta dan gerak sejarah akan membeku[5].

Lebih lanjut Spengler membedakan dua pengertian yakni kultur dan zivilisation. Istilah pertama adalah kebudayaan yang masih hidup, sedangkan yang kedua adalah peradaban, atau kebudayaan yang telah mati. Dalam Decline of the West terangkum filsafat Spengler yang terangkum dalam tiga konsep yaitu relativisme, pesimisme dan determinisme.

Pesimisme berati perkembangan masyarakat ditentukan oleh fatum, bukan manusia sehingga manusia hidup dalam sikap pesimis. Tidak mampu merubah keadaan. Dalam dunia Islam termasuk kelompok Jabariyah. Selanjutnya, determinisme berarti manusia tidak bisa menentukan jalannya sejarah. Perjalanan sejarah ditentukan oleh faktor dari luar diri manusia. Dan yang terakhir adalah relativisme. pandangan ini berarti merupakan konsekuensi bahwa sejarah tidak memiliki patokan yang jelas dan masing-masing kebudayaan memiliki isinya sendiri-sendiri. Dengan demikian suatu kebudayaan tidak pernah bisa dimengerti oleh kebudayaan lain.


[2] . Drs. Hugiono dan Drs. P. K. Poerwantana, Pengantar Ilmu Sejarah, Hlm 83.

[3].  F.R. Ankersmit, Refleksi  tentang  Sejarah;  Pendapat-pendapat  Modern  tentang  Filsafat Sejarah(Jakarta: Gramedia, 1987)

[4] Djoko Suryo. 2009. Transformasi Masyarakat Indonesia Dalam Historiografi Indonesia Modern. Hlm 18

[5] http.nasherooy.blogspot.com. diakses pada Rabu(8/12) pukul 07.30 WIB

Corak Keagamaan di Indonesia Pada Abad 16


Pendahuluan

Keadaan geografis Indonesia yang berpulau-pulau dan jumlahnya mencapai ribuan pulau besar kecil menyebabkan daerah pesisir telah memegang peranan yang cukup penting di bidang perdagangan maupun kekuasaan politik dan ekonomi.  Melihat kenyataan bahwa sejak permulaan berdirinya kerajaan Islam di Indonesia baik yang terletak di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku, maka daerah pesisirlah yang menjadi pusat kerajaan, hal ini tidak mengenyampingkan peranan kerajaan Mataram Islam yang berpusat di pedalaman. Dengan keadaan geografis semacam ini akan sulit untuk membayangkan adanya suatu kekuasaan tunggal untuk menguasai seluruh Indonesia pada saat itu. Dalam perkembangan masyarakat Indonesia-Hindu yang berpindah secara perlahan dan lambat ke masyarakat Indonesia Islam dan lenyapnya kekuasan raja Indonesia-Hindu yang digantikan oleh munculnya kekuasaan kerajaan Indonesia Islam telah membawa akibat pula dalam transformasi politik dan sosial untuk menuju ke sistem masyarakat baru.

Keberadaan tulisan menunjukan kemajuan peradaban manusia, tulisan di nusantara di perkenalkan ejak adanya proses Indianisasi pada madaawal Hindu-Buda, yang selanjutnya budaya baru tulis menulis dilaanjutkan Islam .

Tulisan Jawi telah lama ada dalam khasanah kebudayaan melayu yang diperkirakan sekitar abad ke 10 Masehi atau 3 Hijrah hingga kemasa kini dan ia berasal daripada tulisan Arab[1]. Tulisan inilah yang membangun kebudayaan melayu,  keberadaan tulisan arab melayu di Nusantara identik dengan penyebaran islam ke daerah melayu.

Masa sejak awal abad ke-13 M sampai penghujung abad ke-15 M dalam khazanah kesusastraan melayu disebut masa peralihan,yaitu masa peralihan dari peradaban Hindu ke peradaban Islam. Dengan masuknya peradaban Islam,orang melayu mulai mengenal tradisi tulis. Sebelumnya, mereka hanya memiliki tradisi lisan. Aksara Jawi sudah wujud dan digunakan di wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaya jauh sebelum orang/pulau Jawa memeluk agama Islam (883 H/1468 M).

Bukti historis bahwa adanya tulisan jawi dalam kebudayaan Melayu lama dapat dilihat pada bahan-bahan bertulis seperti : batu bersurat, manuskrip lama, kertas lama, majalah, batu nisan, bahan-bahan yang dibuat daripada logam, kulit, alat senjata , batu lontar, tembikar dan sejenisnya, ukiran-ukiran pada masjid, rumah, dan istana, azimat, rajah atau penangkal.

Penemuan pertama batu nisan yang tertulis dalam bahasa Arab di Sumatera bertarikh 55 Hijrah atau setara dengan 674 M. Selain itu juga ditemukan di Kedah bertarikh 290 Hijrah. Kedua hal ini jelas telah menunjukkan bahwa tulisan Jawi berasal dari orang Arab yang kemudian telah disesuaikan dengan menambahkan beberapa huruf tambahan kepada huruf Arab untuk menyesuaikannya dengan gaya bahasa orang Melayu. Penambahan ini lebih kepada melengkapi ejaan yang tidak ada dalam bahasa Arab tetapi ditemui dalam bahasa Melayu[2].

Yang kedua, masih di abad 14, pada tahun 1310, ditemukan syair tentang keislaman yang ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi di Minya’ Tujoh, Aceh. Karenanya para pakar sepakat bahwa perkembangan karya ulama yang ditulis dengan huruf Jawi sudah berkembang pada Abad 14 pada massa Kekhalifahan Samudra Pasai dan Kekhalifahan Islam lain di Semenanjung Malaka.

 

Pembahasan

Corak keagamaan pada abad 16 di Nusantara adalah corak keagamaan tasawuf, hal iini dapat dilihat dari para ulama dan karya-karyanya. Berikut adalah para ulama abad 16 di nusantara:

  1. Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri adalah seorang penganut mazhab tasawuf wahdat al-wujud atau wujudiyah atau Martabat Tujuh. Keyakinannya itu terungkap baik dalam karya-karya teologisnya maupun dalam karya-karya sastranya. Kesusastraan keagamaan Melayu pada masa Hamzah Fansuri hidup memang berkembang pesat, seiring dengan penyebaran agama Islam di seluruh kepulauan Nusantara dan pendirian berbagai kerajaan Melayu-Islam di beberapa tempat, yaitu di Pasai, Melaka dan Aceh.

Kesusastraan jenis ini berisi yurisprudensi, doktrin, mistisisme dan sebagainya. Dalam hal ini, Hamzah Fansuri adalah salah seorang penulis kesusastraan keagamaan yang termasyhur dan sejajar dengan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Abadul Samad al-Falimbani, Syihabuddin bin Abdullah Muhammad, Syeikh Muhammad Nafis bin Idris al-Banjari, dan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani[3].

Wahdat al-wujud yang dianut oleh Hamzah Fansuri adalah salah satu doktrin tasawuf yang dipengaruhi oleh filsafat dan berbagai sumber non-dogmatik lain. Tradisi wahdat al-wujud adalah bagian dari silsilah intelektual yang dikembangkan dari teks-teks Yunani, Persia, dan India yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Para pemikirnya antara lain adalah al-Kindi (sekitar 958 M), al-Farabi (sekira 958 M), Ibnu Sina (958-1137 M), Ibnu Bajah (sekira 1138 M), Ibnu Taufail (sekira 1185 M), Ibnu Rusydi (1126-1198). Sedangkan gagasan awalnya dapat dilacak hingga Plato dan Plotinus.

Doktrin ini juga mempunyai hubungan dengan tipe mistisisme Islam yang dapat ditemukan dalam studi-studi mistik oleh Abu Yazid al-Bistami (sekira 874 M), al-Hallaj (sekira 921 M), dan Ibnu al-Farid (sekira 1235). Pengaruh terbesar datang dari Ibnu Arabi (sekira 1240 M), terutama di dalam kitabnya yang berjudul Fusus al-Hikam.

Pengaruh:

Pengaruh doktrin ini di Melaka dapat ditemukan dalam Sejarah Melayu, yang mendeskripsikan bahwa balairung Melaka mencari jawaban dari Pasai bagi pertanyaan tentang apakah para penghuni surga dan neraka akan tetap tinggal kekal di dalamnya. Pertanyaan inilah yang diajukan juga oleh Ibnu Arabi.

Setelah jatuhnya Melaka ke tangan Portugis, pengaruh filsafat dan doktrin wujudiyah terutama telah bergeser dari Melaka ke Aceh. Pada saat inilah Hamzah Fansuri menulis karya-karya keagamannya. Situasi di Aceh pada masa itu memang memungkinkan para penulis untuk berkarya di sana. Setelah Melaka jatuh, Aceh berkembang bukan hanya sebagai pusat perdagangan tetapi juga sebagai kerajaan Islam yang terkemuka.

Hamzah Fansuri yakin dan mengajarkan bahwa, karena manusia berasal dari Tuhan, maka manusia tidak merdeka. Kebebasannya adalah cerminan dari kebebasan Tuhan yang absolut. Maka, manusia dapat saja mengikuti kehendaknya sendiri yang disesuaikan dengan kehendak sejati Tuhan, atau ia dapat juga mengikuti kehendak dan nafsunya sendiri di dunia ini. Dunia ini juga berasal Tuhan, tetapi wujudnya bukanlah wujud yang sejati. Jika manusia mengikuti dunia ini, berarti ia tertipu. Sedangkan jika ia meninggalkan dunia ini, berarti ia menemukan hakikat dan nasibnya yang sejati[4] (al-Attas, 1970: 233-353 via Piah dkk, 2002: 374).

Karena doktrin wujudiyah sangat populer pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 di berbagai daerah, khususnya Aceh, pemikiran dan syair-syair Hamzah Fansuri tentu cukup luas tersebar di kalangan kaum Sufi di aliran tersebut. Bahkan, penyebarannya tidak hanya di Aceh, melainkan juga di beberapa daerah lain.

Di Jawa, misalnya, karya-karya Hamzah Fansuri disebarkan hingga ke Banten, Cirebon, Pajang, dan Mataram, serta diterjemahkan atau digarap ke dalam bahasa Jawa. Sejak abad ke-17, mistik dan ajaran yang ada di Jawa terwujud dalam bentuk manunggaling kawulo gusti, yang dalam berbagai bentuk tetap hadir dalam sejarah agama Islam di Jawa[5] (Teeuw, 1995: 67).

Tetapi pandangan ini ditentang oleh ulama besar yang lain, yaitu Nurruddin ar-Raniri, yang berhasil membujuk Sultan Iskandar Thani untuk memberantas ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri. Walaupun demikian, ada beberapa karya Hamzah Fansuri yang berhasil selamat – dari api pembakaran itu.

Karyanya:

  1. Syair Si Burung Pingai
  2. Syair Sidang Fakir
  3. Syair Syarab al-‘Asikin
  4. Syair Dagang
  5. Syair Perahu
  6. Asrar al-‘Arifin fi Bayan Ilmu Suluk wa al-Tauhid
  7. Ruba‘i Hamzah Fansuri
  8. Al-Muntahi
  1. Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili

Abdul Rauf Singkel, yang bernama panjang Syeh Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili, lahir di Fansur, lalu dibesarkan di Singkil pada awal abad ke-17 M. Ayahnya adalah Syeh Ali Fansuri, yang masih bersaudara dengan Syeh Hamzah Fansuri. A. Rinkes memperkirakan bahwa Abdul Rauf lahir pada tahun 1615 M. Ini didasarkan perhitungan, ketika Abdul Rauf kembali dari Mekah, usianya antara 25 dan 30 tahun[6].

Selama sekitar 19 tahun menghimpun ilmu di Timur Tengah, Abdul Rauf tidak hanya belajar di Mekah saja. Ia juga mempelajari ilmu keagamaan dan tasawuf di bawah bimbingan guru-guru yang termasyhur di Madinah. Di kota ini, ia belajar kepada khalifah (pengganti) dari tarekat Syattariyah, yaitu Ahmad Kusyasyi dan penggantinya, Mula Ibrahim Kurani (Braginsky, 1998: 474). Dalam kata penutup salah satu karya tasawufnya, Abdul Rauf menyebutkan guru-gurunya. Data yang cukup lengkap tentang pendidikan dan tradisi pengajaran yang diwarisinya ini merupakan data pertama tentang pewarisan sufisme di kalangan para sufi Melayu. Ia juga menyebutkan beberapa kota Yaman (Zabit, Moha, Bait al-Fakih, dan lain-lain), Doha di Semenanjung Qatar, Madinah, Mekah, dan Lohor di India. Di samping itu, ia juga menyebutkan daftar 11 tarekat sufi yang diamalkannya, antara lain Syattariyah, Kadiriyah, Kubrawiyah, Suhrawardiyah, dan Naqsyabandiyah (Braginsky, 1998: 474).

Sepeninggal Ahmad Kusyasyi, Abdul Rauf memperoleh izin dari Mula Ibrahim Kurani untuk mendirikan sebuah sekolah di Aceh. Sejak 1661 hingga hampir 30 tahun berikutnya, Abdul Rauf mengajar di Aceh. Liaw Yock Fang (1975) menyebutkan bahwa muridnya ramai sekali dan datang dari seluruh penjuru Nusantara. Dan, karena pandangan-pandangan keagamaannya sejalan dengan pandangan Sultan Taj al-‘Alam Safiatun Riayat Syah binti Iskandar Muda (1645-1675), Abdul Rauf kemudian diangkat menjadi Syeikh Jamiah al-Rahman dan mufti atau kadi dengan sebutan Malik al-Adil, menggantikan Syeh Saif al-Rijal yang wafat tidak lama setelah ia kembali ke Aceh (Abdul Hadi WM, 2006: 241-242). Selain itu, ia juga bersikap keras terhadap orang-orang yang menolak berkuasanya seorang raja perempuan (lihat Mat Piah et.al, 2002: 61).

Dalam banyak tulisannya, Abdul Rauf Singkel menekankan tentang transendensi Tuhan di atas makhluk ciptaan-Nya. Ia menyanggah pandangan wujudiyyah yang menekankan imanensi Tuhan dalam makhluk ciptaan-Nya. Dalam karyanya yang berjudul Kifayat al-Muhtajin, Abdul Rauf berpendapat bahwa sebelum Tuhan menciptakan alam semesta, Dia menciptakan Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad inilah Tuhan kemudian menciptakan permanent archetypes (al-a‘yan al-kharijiyyah), yaitu alam semesta yang potensial, yang menjadi sumber bagi exterior archetypes (al-a‘yan al-kharijiyyah), bentuk konkret makluk ciptaan. Selanjutnya, Abdul Rauf menyimpulkan bahwa walaupun a‘yan al-kharijiyyah adalah emanasi (pancaran) dari Wujud Yang Mutlak, ia tetap berbeda dari Tuhan. Abdul Rauf mengumpamakan perbedaan ini dengan tangan dan bayangannya. Walaupun tangan sangat sukar untuk dipisahkan dari banyangannya, tetapi bayangan itu bukanlah tangan yang sebenarnya (lihat Azyumardi Azra dalam Osman, 1997: 174).

Secara umum, Abdul Rauf ingin mengajarkan harmoni antara syariat dan sufisme. Dalam karya-karyanya ia menyatakan bahwa tasawuf harus bekerjasama dengan syariat. Hanya dengan kepatuhan yang total terhadap syariat-lah maka seorang pencari di jalan sufi dapat memperoleh pengalaman hakikat yang sejati. Pendekatannya ini tentu saja berbeda dari pendekatan Nuruddin al-Raniri yang tanpa kompromi. Abdul Rauf cenderung memilih jalan yang lebih damai dan sejuk dalam berinteraksi dengan aliran wujudiyyah. Maka, walaupun ia menentang aliran yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri itu, ia tidak menyatakannya secara terbuka. Lagipula, ia juga tidak setuju dengan cara-cara radikal yang ditempuh oleh Nuruddin (lihat Azyumardi Azra dalam Osman, 1997: 174).

Menariknya, dalam karya-karyanya ia tidak menyebut Nuruddin al-Raniri, yang karya-karyanya mungkin sekali telah dikenalinya, tetapi seolah-olah mengisyaratkan peristiwa tragis yang pernah terjadi, melalui kutipan sebuah hadis: “Jangan sampai terjadi seorang muslim menyebut muslim lain sebagai kafir. Karena jika ia berbuat demikian, dan memang demikianlah kenyataannya, lalu apakah manfaatnya. Sedangkan jika ia salah menuduh, maka tuduhan ini akan dibalikkan melawan ia sendiri” (Johns dalam Braginsky, 1998: 476).

Dengan caranya yang lebih damai ini, ia dapat menahan berkembangnya heterodoksi dalam Islam yang disebabkan oleh tafsir yang kurang tepat terhadap ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani (Abdul Hadi WM, 2006: 241).

Pengaruh:

Syeh Abdul Rauf Singkel memiliki banyak murid yang tersebar di kepulauan Nusantara. Dua muridnya juga masyhur, yaitu Syeh Jamaluddin al-Tursani dan Syeh Yusuf al-Makasari. Jamaluddin al-Tursani adalah seorang ahli hukum ketatanegaraan terkenal dan pernah menjadi Kadi Malik al-Adil di istana Aceh pada awal abad ke-18 M. Ia terkenal berkat karya hukum ketatanegaraannya yang komprehensif, Syafinat al Hukam (Bahtera Para Hakim), yang merupakan perluasan baik terhadap Taj al-Salatin maupun Bustan al-Salatin. Sedangkan Syeh Yusuf al-Makasari adalah seorang ulama dari Makassar. Ulama inilah yang mendampingi Sultan Ageng Tirtayasa dalam perjuangannya melawan kolonialisme Belanda (Abdul Hadi WM, 2006: 246).

Pada saat Abdul Rauf menjadi mufti, Aceh adalah kesultanan yang sangat penting di dunia Melayu karena menjadi tempat persinggahan para jemaah haji. Orang dari Jawa dan daerah lain di Indonesia yang pergi naik haji, harus singgah di Aceh. Sewaktu di Aceh, tidak sedikit pula dari jemaah haji belajar agama dan ilmu tasawuf kepada Abdul Rauf (A.H. Johns dalam Liaw Yock Fang, 1975: 197). Mungkin inilah sebabnya tarekat Syattariyah agak populer di Jawa dan nama Abdul Rauf sering disebut dalam silsilah tarekat tersebut. Sebuah karangan Abdul Rauf, yaitu Dakai‘ik al-Huruf, dikutip dalam al-Tuhfa al-mursala ila ruh al-nabi, sebuah risalah ilmu tasawuf yang sangat penting di Jawa (Liaw Yock Fang, 1975: 197).

Bersama dengan Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf Singkel menunjukkan bahwa Islam, sebagaimana yang dipraktekkan di Asia Tenggara, adalah bagian dari pasang surut gagasan dan praktek religius dan mistisisme di dunia. Gagasan dan praktek ini berakar pada Al-Qur‘an dan kehidupan komunitas Islam awal, tetapi kemudian berkembang ke berbagai arah yang berbeda-beda. Perdebatan yang terjadi di Aceh, dan juga di dunia Melayu pada umumnya, tidak bersifat unik bagi daerah ini saja, karena telah muncul juga di berbagai belahan dunia Islam lainnya. Menurut Piah dkk (2002), Aceh menangkap gagasan dan praktek-praktek ini dan mengeskpresikannya dengan cara yang rumit dan menantang bagi kaum Muslim yang memahami keimanan mereka melalui medium bahasa Melayu.

Karyanya:

Oman Fathurrahman (dalam Osman, 1997: 242) mencatat tidak kurang dari 36 kitab berkenaan dengan fikih dan syariat, tasawuf, dan tafsir Al-Qur‘an dan hadis, di antaranya adalah:

  1. Daka‘ik al-Huruf (Kehalusan-kehalusan Huruf), dikutip dalam al-Tuhfa al-mursala ila ruh al-nabi, risalah ilmu tasawuf yang sangat penting di Jawa.
  2. Tafsir Baidhawi (terjemahan, 1884, diterbitkan di Istambul).
  3. Mirat al-Turab fi Tashil Ma‘rifah al-Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik al-Wahab (Cermin Para Penuntut Ilmu untuk Memudahkan Tahu Hukum-hukum Syara‘ dari Tuhan, bahasa Melayu).
  4. Umdat al-muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin (Pijakan bai Orang-orang yang Menempuh Jalan Tasawuf).
  5. Tanbih al-Masyi al-Mansub ila Tariq al-Qusyasyi (Pedoman bagi Penempuh Tarekat al-Qusyasyi, bahasa Arab).
  6. Bayan al-Arkan (Penjelasan tentang Rukun-rukun Islam, bahasa Melayu).
  7. Bidayah al-Baligah (Permulaan yang Sempurna, bahasa Melayu).
  8. Sullam al-Mustafiddin (Tangga Setiap Orang yang Mencari Faedah, bahasa Melayu).
  9. Piagam tentang Zikir (bahasa Melayu).
  10. Tarjuman al-Mustafid bi al-Jawy.
  11. Syarh Latif ‘Ala Arba‘ Hadisan li al-Imam al-Nawawiy (Penjelasan Terperinci atas Kitab empat Puluh Hadis Karangan Imam Nawawi, bahasa Melayu).
  12. Al-Mawa‘iz al-Ba‘diah (Petuah-petuah Berharga, bahasa Melayu).
  13. Kifayat al-Muhtajin.
  14. Bayan Tajilli (Penjelasan tentang Konsep Manifestasi Tuhan).
  15. Syair Makrifat.
  16. Al-Tareqat al-Syattariyah (Untuk Memahami jalan Syattariyah).
  17. Majmu al-Masa‘il (Himpunan Petranyaan).
  18. Syam al-Ma‘rifat (Matahari Penciptaan).

 

  1. Syamsuddin Sumatrani

Syamsuddin Sumatrani dikenal sebagai seorang sufi yang mengajarkan faham wahdatul wujud (keesaan wujud) dengan mengikuti faham wahdatul wujud Ibnu Arabi. Istilah wahdatul wujud itu sendiri sebenarnya bukan diberikan oleh Ibnu Arabi sendiri. Artinya, Ibnu Arabi tidak pernah menyatakan bahwa sistem pemikiran tasawufnya itu merupakan paham wahdatul wujud.

Dari hasil penelitian WC. Chittick, Sadr al-Din al-Qunawi (w. 673/1274) adalah orang pertama yang menggunakan istilah wahdatul wujud, hanya saja al-Qunawi tidak menggunakannya sebagai suatu istilah teknis yang independen. Selain al-Qunawi, masih banyak lagi yang menggunakan istilah wahdatul wujud. Namun tokoh yang paling besar peranannya dalam mempopulerkan istilah wahdatul wujud adalah Taqi al-Din Ibn Taymiyyah (w. 728/1328). Ia adalah pengecam keras ajaran Ibnu Arabi dan para pengikutnya.

Di antara kaum sufi yang mengikuti jejak pemikiran Ibnu Arabi tersebut adalah Syamsuddin Sumatrani. Pengajaran Syamsuddin Sumatrani tentang Tuhan dengan corak paham wahdatul wujud dapat dikenal dari pembicaraannya tentang maksud kalimat tauhid la ilaha illallah, yang secara harfiah berarti tiada Tuhan selain Allah. Ia menjelaskan bahwa kalimat tauhid tersebut bagi salik (penempuh jalan tasawuf) tingkat pemula (al-mubtadi) dipahami dengan pengertian bahwa tiada ada ma’bud (yang disembah) kecuali Allah.

Sementara bagi salik yang sudah berada pada tingkat menengah (al-mutawassith), kalimat tauhid tersebut dipahami dengan pengertian bahwa tidak ada maksud (yang dikehendaki) kecuali Allah. Adapun bagi salik yang sudah berada pada tingkat penghabisan (al-muntaha), kalimat tauhid tersebut difahami dengan pengertian bahwa tidak ada wujud kecuali Allah.

Namun ia mengingatkan bahwa terdapat perbedaan prinsipil antara pemahaman wahdatul wujud dari para penganut tauhid yang benar (al-muwahhidin al-shiddiqin), dengan paham wahdatul wujud dari kaum zindiq penganut panteisme. Di lihat dari satu sisi, kedua pihak itu memang nampak sependapat dalam menetapkan makna kalimat tauhid la ilaha illallah, yakni tiada wujud selain Allah, sedang wujud segenap alam adalah bersifat bayang-bayang atau majazi. Tetapi sebenarnya kedua belah pihak memiliki perbedaan pemahaman yang sangat prinsipil. Bagi kaum panteisme yang zindiq alias sesat, mereka memahaminya bahwa wujud Tuhan itu tidak ada, kecuali dalam kandungan wujud alam. Jadi bagi kalangan panteis ini, segenap wujud alam adalah wujud Tuhan dan wujud Tuhan adalah wujud alam (baik dari segi wujud maupun dari segi penampakannya).

Jadi para penganut paham panteisme itu mengidentikkan Tuhan dengan alam. Mereka menetapkan adanya kesatuan hakikat dalam kejamakan alam tanpa membedakan antara martabat Tuhan dengan martabat alam. Paham demikian menurut Syamsuddin Sumatrani adalah paham yang batil dan ditolak oleh para penganut tauhid yang benar.

Bagi Syamsuddin Sumatrani, sebagaimana faham Ibnu Arabi, asdalah Keesaan Wujud berarti tidak ada sesuatu pun yang memiliki wujud hakiki kecuali Tuhan. Sementara alam atau segala sesuatu selain Tuhan keberadaannya adalah karena diwujudkan (maujud) oleh Tuhan. Karena itu dilihat dari segi keberadaannya dengan dirinya sendiri, alam itu tidak ada (ma’dum); tetapi jika dilihat dari segi “keberadaannya karena wujud Tuhan” maka jelaslah bahwa alam itu ada (maujud).

Dengan demikian martabat Tuhan sangat berbeda dengan martabat alam. Hal ini diuraikan dalam ajarannya mengenai martabat tujuh, yakni satu wujud dengan tujuh martabatnya. Tulisnya: I’lam, ketahui olehmu bahwa (se)sungguhnya martabat wujud Allah itu tujuh martabat; pertama martabat ahadiyyah, kedua martabat wahdah, ketiga martabat wahidiyyah, keempat martabat alam arwah, kelima martabat alam mitsal, keenam martabt alam ajsam dan ketujuh martabat alam insan.

Maka ahadiyyah bernama hakikat Allah Ta’ala, martabat Dzat Allah Ta’ala dan wahdah itu bernama hakikat Muhammad, ia itu bernama sifat Allah, dan wahidiyyah bernama (hakikat) insan dan Adam ‘alaihi al-Salam dan kita sekalian, ia itu bernama asma Allah Ta’ala, maka alam arwah martabat (hakikat) segala nyawa, maka alam mitsal martabat (hakikat) segala rupa, maka alam ajsam itu martabat (hakikat) segala tubuh, maka alam insan itu martabat (hakikat) segala manusia. Adapun martabat ahadiyyah, wahdah dan wahidiyyah itu anniyyat Allah Ta’ala, maka alam arwah, alam mitsal alam ajsam dan alam insan itu martabat anniyyat al-makhluk.

Atas uraian Syamsuddin Sumatrani tersebut Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan memberikan ulasan: terhadap tiga martabat pertama yang disebutnya dengan ‘anniyyat Allah, maksudnya adalah martabat wujud aktual Tuhan; Sedang terhadap empat martabat berikutnya yang disebut martabat anniyyat al-makhluk, maka yang dimaksudkannya adalah wujud aktual makhluk.

Dengan demikian, tiga martabat pertama adalah qadim (dahulu tanpa permulaan) dan baqa (kekal tanpa kesudahan); Sedang empat martabat berikutnya disebut muhdats (yang dijadikan/diciptakan). Karena itu pula istilah ‘alam tidak digunakan untuk tiga martabat pertama, tapi jelas dipergunakan untuk empat martabat berikutnya. Dari semua itu dapatlah dipahami bahwa martabat ketuhanan itu tidak lain dari tiga martabat pertama, sedang martabat alam atau makhluk mengacu pada empat martabat berikutnya. Wallahu A’lam.

Peranan dan Pengaruhnya:

Pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589-1604), Syamsuddin Sumatrani sudah menjadi orang kepercayaan sultan Aceh. Sayang dalam kitab Bustan al-Salathin sendiri tidak disingkapkan bagaimana perjalanan Syamsuddin Sumatrani sehingga ia menjadi ulama yang paling dipercaya dalam lingkungan istana kerajaan Aceh selama tiga atau empat dasawarsa.

Syamsuddin Sumatrani wafat pada tahun 1039 H/1630 M, dan selama beberapa dasawarsa terakhir dari masa hidupnya ia merupakan tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani. Ia berada dalam lindungan dan bahkan berhubungan erat dengan penguasa Kerajaan Aceh Darussalam.
Syamsuddin Sumatrani adalah satu dari empat ulama yang paling terkemuka. Ia berpengaruh serta berperan besar dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas keislaman di Aceh pada kisaran abad ke-l7 dan beberapa dasawarsa sebelumnya. Keempat ulama tersebut adalah Hamzah Fansuri (?-?), Syamsuddin Sumatrani (?-1630), Nuruddin Raniri (?-1658), dan Abdur Rauf Singkel (1615/20-1693). Mengenai ada tidaknya hubungan antara Syamsuddin Sumatrani dengan ketiga ulama lainnya, ada baiknya disinggung seperlunya.

Mengenai hubungan Hamzah Fansuri dengan Syamsuddin Sumatrani, sejarawan A. Hasjmy cenderung memandang Syamsuddin Sumatrani sebagai murid dari Hamzah Fansuri. Pandangannya ini diperkuat dengan ditemukannya dua karya tulis Syamsuddin Sumatrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap pengajaran Hamzah Fansuri. Kedua karya tulis Syamsuddin Sumatrani itu adalah Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol.

Adapun hubungannya dengan Nuruddin ar-Raniri, hal ini tidak diketahui secara pasti. Yang jelas adalah bahwa tujuh tahun setelah Syamsuddin Sumatrani wafat, Raniri memperoleh kedudukan seperti sebelumnya diperoleh Syamsuddin Sumatrani. Ia diangkat menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1637 oleh Sultan Iskandar Tsani. Karena fatwanya yang men-zindiq-kan (mengkafirkan) paham wahdatul wujud Syamsuddin Sumatrani, maka para pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dihukum oleh pihak penguasa dengan hukuman bunuh. Bahkan literatur-literatur yang mereka miliki dibakar habis. Namun demikian, para pengikut paham Sumatrani itu ternyata tidak punah semuanya.

Pada kisaran tahun 1644 Raniri disingkirkan dari kedudukannya selaku mufti kerajaan Aceh Darussalam. Ia pun terpaksa pulang ke Ranir, Gujarat. Sebagai penggantinya, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin (1641-1675) kemudian mempercayakan jabatan mufti kerajaan kepada Saifur Rijal. Saifur Rijal adalah seorang Minang yang juga penganut paham wahdatul wujud. Pada waktu itu ia baru pulang kembali ke Aceh dari pendalaman kajian agama di India. Dengan demikian, paham tasawuf Syamsuddin Sumatrani itu kembali mewarnai corak keislaman di Kerajaan Aceh Darussalam.

Karyanya:

  1. Jawhar al-Haqa’iq
  2. Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwahhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah
  3. Mir’at al-Mu’minin
  4. Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri
  5. Syarah Sya’ir Ikan Tongkol
  6. Nur al-Daqa’iq
  7. Thariq al-Salikin
  8. Mir’at al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur
  9. Kitab al-Harakah
  1. Al-Raniri

Ar-Raniri berperan penting saat berhasil memimpin ulama Aceh menghancurkan ajaran tasawuf falsafinya Hamzah Fansuri yang dikhawatirkan dapat merusak akidah umat Islam awam terutama yang baru memeluknya. Tasawuf falsafi berasal dari ajaran Al-Hallaj, Ibnu Arabi, dan Suhrawardi, yang khas dengan doktrin Wihdatul Wujud (Menyatunya Kewujudan) di mana sewaktu dalam keadaan sukr (‘mabuk’ dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala) dan fana’ fillah (‘hilang’ bersama Allah), seseorang wali itu mungkin mengeluarkan kata-kata yang lahiriahnya sesat atau menyimpang dari syariat Islam.

Maka oleh mereka yang tidak mengerti hakikat ucapan-ucapan tersebut, dapat membahayakan akidah dan menimbulkan fitnah pada masyarakat Islam. Karena individu-individu tersebut syuhud (‘menyaksikan’) hanya Allah sedang semua ciptaan termasuk dirinya sendiri tidak wujud dan kelihatan. Maka dikatakan wahdatul wujud karena yang wajib wujudnya itu hanyalah Allah Ta’ala sedang para makhluk tidak berkewajiban untuk wujud tanpa kehendak Allah. Sama seperti bayang-bayang pada pewayangan kulit.

Konstruksi wahdatul wujud ini jauh berbeda malah dapat dikatakan berlawanan dengan faham manunggaling kawula lan Gusti’. Karena pada konsep manunggaling kawula lan Gusti’, dapat diibaratkan umpama bercampurnya kopi dengan susu, maka substansi dua-duanya sesudah menyatu adalah berbeda dari sebelumnya. Sedangkan pada faham wihdatul wujud, dapat di umpamakan seperti satu tetesan air murni pada ujung jari yang dicelupkan ke dalam lautan air murni. Sewaktu itu, tidak dapat dibedakan air pada ujung jari dari air lautan. Karena semuanya kembali kepada Allah.

Maka pluralisme (menyamakan semua agama) menjadi lanjutan terhadap gagasan beliau dimana yang penting dan utama adalah Pencipta, dan semua ciptaan adalah sama, hadir di alam mayapada hanya karena kehendak Allah saja. Maka faham ini, tanpa dibarengi dengan pemahaman dan kepercayaan syariat, dapat membelokkan aqidah. Pada zaman dulu, para waliyullah di negara-negara Islam Timur Tengah sering, apabila di dalam keadaan seperti ini, dianjurkan untuk tidak tampil di khalayak ramai.

Tasawuf falsafi diperkenalkan di Nusantara oleh Fansuri dan Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar kemudian dieksekusi mati oleh dewan wali (Wali Songo). Ini adalah hukuman yang disepakati bagi pelanggaran syariat, manakala hakikatnya hanya Allah yang dapat maha mengetahui. Al-Hallaj setelah dipancung lehernya, badannya masih dapat bergerak, dan lidahnya masih dapat berzikir. Darahnya pula mengalir mengeja asma Allah, ini semua karomah untuk mempertahankan keberadaan Allah. Di Jawa, tasawuf falsafi bersinkretisme dengan aliran kebatinan dalam ajaran Hindu dan Budha sehingga menghasilkan ajaran Islam kejawen.

Ronggowarsito (Bapak Kebatinan Indonesia) dianggap sebagai penerus Siti Jenar. Karya-karyanya, seperti Suluk Jiwa, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Lukma Lelana, dan Serat Hidayat Jati, sering diaku-aku Ronggowarsito berdasarkan kitab dan sunnah. Namun banyak terdapat kesalahan tafsir dan transformasi pemikiran dalam karya-karyanya itu. Ronggowarsito hanya mengandalkan terjemahan buku-buku tasawuf dari bahasa Jawa dan tidak melakukan perbandingan dengan naskah asli bahasa Arab. Tanpa referensi kepada kitab-kitab Arab yang ditulis oleh ulama ahli syariat dan hakikat yang muktabar seperti Syekh Abdul Qadir Jailani dan Ibn Arabi, maka ini adalah sangat berbahaya.

Ar-Raniri dikatakan pulang kembali ke India setelah beliau dikalahkan oleh dua orang murid Hamzah Fansuri pada suatu perdebatan umum. Ada riwayat mengatakan beliau wafat di India.

Pengaruh Al-Raniri

Al-Raniri merupakan sosok ulama yang memiliki banyak keahlian. Dia seorang sufi, teolog, faqih (ahli hukum), dan bahkan politisi. Keberadaan Al-Raniri seperti ini sering menimbulkan banyak kesalahpahaman, terutama jika dilihat dari salah satu aspek pemikiran saja. Maka sangat wajar, jika beliau dinilai sebagai seorang sufi yang sibuk dengan praktek-praktek mistik, padahal di sisi lain, Al-Raniri adalah seorang faqih yang memiliki perhatian terhadap praktek-praktek syariat. Oleh karena itu, untuk memahaminya secara benar, haruslah dipahami semua aspek pemikiran, kepribadian dan aktivitasnya (Azra: 1994).

Keragaman keahlian Al-Raniri dapat dilihat kiprahnya selama. di Aceh. Meski hanya bermukim dalam waktu relatif singkat, peranan Al-Raniri dalam perkembangan Islam Nusantara tidak dapat diabaikan. Dia berperan membawa tradisi besar Islam sembari mengeliminasi masuknya tradisi lokal ke dalam tradisi yang dibawanya tersebut. Tanpa mengabaikan peran ulama lain yang lebih dulu menyebarkan Islam di negeri ini, Al-Ranirilah yang menghubungkan satu mata rantai tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam Nusantara.

Bahkan, Al-Raniri merupakan ulama pertama yang membedakan penafsiran doktrin dan praktek sufi yang salah dan benar. Upaya seperti ini memang pernah dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Fadhl Allah Al-Burhanpuri. Namun, Al-Burhanpuri tidak berhasil merumuskannya dalam penjabaran yang sisternatis dan sederhana, malahan membingungkan para pengikutnya, sehingga Ibrahim Al-Kurani harus memperjelasnya. Upaya-upaya lebih lanjut tampaknya pernah juga dilakukan oleh Hamzah Fansuri dan Samsuddin Al-Sumaterani, tetapi keduanya gagal memperjelas garis perbedaan antara Tuhan dengan alam dan makhluk ciptaannya (Azra: 1994).

Oleh karena itu, dalam pandangan Al-Raniri, masalah besar yang dihadapi umat Islam, terutama di Nusantara, adalah aqidah. paham immanensi antara Tuhan makhluknya sebagaimana dikembangkan oleh paham wujudi”ah merupakan praktek sufi yang berlebihan. Mengutip doktrin Asy’ariyyah, Al-Raniri berpandangan bahwa antara Tuhan dan alam raya terdapat perbedaan (mukhalkfah), sementara antara manusia dan Tuhan terdapat hubunpn transenden.

Selain secara umum Al-Raniri dikenal sebagai syeikh Rifaiyyah, ia juga memiliki mata rantai dengan tarekat Aydarusiyyah dan Qadiriyyah. Dari tarekat Aydarusiyyah inilah Al-Raniri dikenal sebagai ulama yang teguh mernegang akar-akar tradisi Arab, bahkan simbol-simbol fisik tertentu dari budayanya, dalam menghadapi lokal. Tidak hanya itu, ketegasan Al-Raniri dalam menekankan adanya keselarasan antara praktek mistik dan syari’at merupakan bagian dari ajaran tarekat Aydarusiyyah.

Dari paparan di atas, sepintas memang belum banyak pembaruan yang telah dilakukan oleh Al-Raniri, kecuali mempertegas paham Asy’ariyyah, memperjelas praktek-praktek syariat, dan sanggahan terhadap paham wujudiyyah. Di sinilah dibutuhkaan kejelian untuk memandang Al-Raniri secara utuh, baik kirah, pikiran maupun karya-karyanya (Azra: 1994). Bahkan, dari catatan sanggahan Al-Raniri terhadap paham wujudiyyahlah dapat ditemukan, sejumlah pembaruanterutama dalam hal metodologi.

penulisan ilmiah, dimana beliau selalu mencantumkaan argumentasi berikut referensinya. Dari cara seperti ini pula dalam perkembangannya ditemukan sejumlah ulama -ulama baru yang belum pernah diungkap oleh penulis-penulis lain sebelumnya, berikut pemikiran-pemikiran yang baru.

Meski Al-Raniri berpengaruh besar dalam perkembangan Islam Nusantara, tetapi hingga kini belum ditemukan para muridnya secara langsung, kecuali Syeikh Yusuf Al-Maqassari. Al-Maqassari dalam kitabnya, Safinat al-Najah menjelaskan bahwa dari Al-Ranirilah diperoleh silsilah tarekat Qadiriyyah, karena Al-Raniri adalah guru sekaligus syeikhnya. Hanya saia, bukti ini belum dianggap valid, karena belum diketahui kapan dan dimana mereka bertemu. Kesulitan lainnya juga akan muncul ketika dicari hubungan dan jaringan Al-Raniri dengan para ulama lain penyebar agama Islam di wilayah Nusantara, ataupun para ulama asli Nusantara yang berkelana sampai ke Timur-Tengah. Yang ada hanyalah kemungkinan bertemunya Al-Raniri dengan para jamaah haji dan para pedatang dari Nusantara yang kebetulan menuntut ilmu di tanah haram, tepatnya ketika Al-Raniri bermukim di Makkah dan Madinah (1621 M). Pertemuan inilah yang diduga adanya komunikasi langsung dengan para muridnya dari Nusantara, termasuk dengan Al-Maqassari.

Kesulitan ini juga terus berlanjut, jika dikaitkan dengan keingianan mencari hubungan Al-Raniri dengan dunia pesantren di wilayah Nusantara. Pasalnya, selain tiada literatur yang menunjukkan hal tersebut, manuskrip-manuskrip yang berkaitan dengan pesantren pun tidak menunjukkan adanya hubungan tersebut. Meski demikian, bukan berarti Al-Raniri tidak memiliki keterkaitan sama sekah dengan dunia pesantren. Setidaknya, peran Al-Maqassari dan para jamaah haji serta para muridnya di Makkah dan Madinah yang kemudian kembali ke tanah air merupakan keterkaitan tidak langsung Al-Raniri dengan dunia pesantren di Indonesia.

Ada yang berpendapat bahawa beliau meninggal dunia di India. Pendapat lain menyebut bahawa beliau meninggal dunia di Aceh. Ahmad Daudi, menulis: “Maka tiba-tiba dan tanpa sebab-sebab yang diketahui, Syeikh Nuruddin ar-Raniri meninggalkan Serambi Mekah ini, belayar kembali ke tanah tumpah darahnya yang tercinta, Ranir untuk selama-lamanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1054 H (1644 M).” Bahawa beliau meninggal dunia pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M. Tetapi Karel A. Steenbrink dalam bukunya, Mencari Tuhan Dengan Kacamata Barat berpendapat lain, bahawa hingga tahun 1644 M bererti Syeikh Nuruddin masih berada di Aceh. Menurutnya terjadi diskusi yang terlalu tajam antara beberapa kelompok pemerintah: Seorang uskup agung (ar-Raniri) di satu pihak dan beberapa hulubalang dan seorang ulama dari Sumatera Barat di pihak lain. Pihak yang anti ar-Raniri akhirnya menang, sehingga ar-Raniri dengan tergesa-gesa kembali ke Gujarat. Tulisan Karel itu barangkali ada benarnya, kerana secara tidak langsung Syeikh Nuruddin mengaku pernah kalah berdebat dengan Saiful Rijal, penyokong fahaman Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i, perkara ini beliau ceritakan dalam kitab Fath al-Mubin.

Ada pun tempat meninggalnya, H.M. Zainuddin, berbeza pendapat dengan Ahmad Daudi di atas. Menurut Zainuddin dalam Tarich Atjeh Dan Nusantara, jilid 1, bahawa terjadi pertikaian di istana, dalam perebutan itu telah terbunuh seorang ulama, Faqih Hitam yang menentang tindakan Puteri Seri Alam. Dalam pada itu Syeikh Nuruddin diculik orang, kemudian mayatnya diketemukan di Kuala Aceh. Menurut H.M. Zainuddin pula, bahawa makam Syeikh Nuruddin itu dikenal dengan makam keramat Teungku Syiahdin (Syeikh Nuruddin ar-Raniri) terletak di Kuala Aceh.

Dalam masa pemerintahan Iskandar Muda, kerajaan Aceh maju, ajaran sufi tidak menghalang kemajuan yang berasaskan Islam. Sebaliknya masa pemerintahan Iskandar Tsani, ajaran sufi dianggap sesat, ternyata kerajaan Aceh mulai menurun. Bantahan terhadap sesuatu pegangan yang pernah berkembang di dunia Islam perlulah ditangani dengan penuh kebijaksanaan. Siapa saja yang memegang urusan keislaman janganlah tersalah penilaian, sering terjadi yang benar menjadi salah, atau sebaliknya yang salah menjadi benar.

karyanya:

  • Kitab Al-Shirath al-Mustaqim (1634)
  • Kitab Durrat al-faraid bi Syarh al-‘Aqaid an Nasafiyah (1635)
  • Kitab Hidayat al-habib fi al Targhib wa’l-Tarhib (1635) ?
  • Kitab Error! Hyperlink reference not valid. (1638)
  • Kitab Nubdzah fi da’wa al-zhill ma’a shahibihi
  • Kitab Latha’if al-Asrar
  • Kitab Asral an-Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman
  • Kitab Tibyan fi ma’rifat al-Adyan
  • Kitab Akhbar al-Akhirah fi Ahwal al-Qiyamah
  • Kitab Hill al-Zhill
  • Kitab Ma’u’l Hayat li Ahl al-Mamat
  • Kitab Aina’l-‘Alam qabl an Yukhlaq
  • Kitab Syifa’u’l-Qulub
  • Kitab Hujjat al-Shiddiq li daf’I al-Zindiq
  • Kitab Al-Fat-hu’l-Mubin ‘a’l-Mulhiddin
  • Kitab Al-Lama’an fi Takfir Man Qala bi Khalg al-Qur-an
  • Kitab Shawarim al- Shiddiq li Qath’I al-Zindiq
  • Kitab Rahiq al-Muhammadiyyah fi Thariq al-Shufiyyah.
  • Kitab Ba’du Khalg al-samawat wa’l-Ardh
  • Kitab Kaifiyat al-Shalat
  • Kitab Hidayat al-Iman bi Fadhli’l-Manaan
  • Kitab ‘Aqa’id al-Shufiyyat al-Muwahhiddin
  • Kitab ‘Alaqat Allah bi’l-‘Alam
  • Kitab Al-Fat-hu’l-Wadud fi Bayan Wahdat al-Wujud
  • Kitab ‘Ain al-Jawad fi Bayan Wahdat al-Wujud
  • Kitab Awdhah al-Sabil wa’l-Dalil laisal li Abathil al-Mulhiddin Ta’wil
  • Kitab Awdhah al-Sabil laisan li Abathil al-Mulhiddin Ta’wil.
  • Kitab Syadar al-Mazid
  • Kitab Jawahir al-‘ulum fi Kasyfi’l-Ma’lum

Sumber:

http://melayuonline.com/ind/personage/dig 341 hamzah-fansuri.htm

http://acehpedia.org/Nuruddin_al-Raniri.htm

http://melayuonline.com/ind/personage/dig/348 abdul-rauf-singkel.htm

http://sufiroad.blogspot.com/2010/11/sufi-road-syeikh-hamzah-al-fansuri.html

http://taufikirawan.wordpress.com/2011/11/01/nuruddin-al-raniri.htm

http://www.gusmus.net/page.php mod=dinamis&sub=7&id=261.htm

http://www.ipuisi.com/penulisan-puisi-oleh-ulama-asia-tenggara.htm

Referensi:

  • Braginsky, V.I. Yang Indah, Berfaedah dan Kamal Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS, 1998.
  • Harun Mat Piah, et,al. Traditional Malay Literature. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2002.
  • Liaw Yock Fang. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Singapura: Pustaka Nasional Singapura, 1975.
  • Abdul Hadi WM, “Aceh dan Kesusastraan Melayu”, dalam Sardono W. Kusumo (ed.). Aceh dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: IKJ Press, 2006. Hlm. 173-276.
  • Azyumardi Azra, “Education, Law, Mysticism: Constructing Social Realities”, dalam Mohd. Taib Osman (ed.). Islam Civilization in the Malay World. Kuala Lumpur: 1997. Hlm. 141-195
  • Teeuw, A., 1994. Iindonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya
  • Harun Nasution, dkk., Ensiklopedi Islam Indonesia, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1992.

[1] Menurut Jelprison, tulisan arab melayu mulai berkembang pada awal abad 12. Menurut Hashim Haji Musa dalam bukunya “Sejarah Perkembangan Tulisan Jawi” tulisan arab melayu berkembang pada pertengahan abad 14. (Jelprison. 2008. Arab Melayu Sebuah Pengenalan. kampungrison.wordpress.com).

[2] Azwar. Manuskrip Melayu dan Tulisan Jawi. ( Padang, sebuah website)

[3] Harun Mat Piah, dkk. Traditional Malay Literature. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2002. xvii

[4] Harun Mat Piah, dkk. Traditional Malay Literature. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2002. 374

[5] Teeuw, A. Iindonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya, 1995. 67.

[6] Abdul Hadi WM, “Aceh dan Kesusastraan Melayu”, dalam Sardono W. Kusumo (ed.). Aceh dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: IKJ Press, 2006. 241

Menyerang Pengguna NetCut


Oleh: Rif’an

 

Netcut adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk memotong koneksi internet dengan maksu dingin menguasai bandwich jaringan, yang menyebabkan internet kita tidak bisa dipakai. Untuk mengatasi hal tersebut kita bisa memakai program NetCut Defender atau Anti NetCut. Untuk menyerang kembali pengguna NetCut ikuti panduan berikut:

 

Cara mendeteksi pengguna netcut:

  1. buka cmd: klik start, ketikan cmd pada kotak searc

 

  1. Maka akan muncul tampilan cmd

 

  1. Ketik perintah arp –a kemudian enter, maka akan muncul tampilan cmd seperti berikut:

 

  1. dalam cmd Dynamic adalah server jaringan kita, jika terdapat dua atau lebih Dynamic bisa jadi salah satunya adalah pengguna NetCut.
  2. untuk menyerang-nya catat ip dynamik yang mencurigakan contoh 192.168.3.219
  3. jangan keliru ip server kita biasanya ip server kita di akhiri angka 1 contoh 192.168.3.1
  4. untuk menyerangnya ketikan perintah ping ip pengguna neetcut –t
  5. perintah di atas akan membuat si pengguna netcut kelabakan karena browsernya akan hang. Mau tidak mau sipengguna netcut harus merestart laptopnya dulu hahaha
  6. semoga cara bermanfaat.

Bom Bali


BOM BALI

 

 

Makalah ditujukan untuk memenuhi tugas matakuliah:

ISLAM RADIKAL

 

 

Dosen pembimbing:

Prof. Dr. Syafiq Mughni, MA.

Drs. Lilik Zulaicha, M. Hum.

 

 

Oleh:

M. Rif’an

A02209034

 

 

JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM

FAKULTAS ADAB

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SUURABAYA

2011

Pendahuluan

 

Istilah terorisme memang masih tergolong “baru”. Istilah ini pertama kali muncul pada 1789i dalam the dictionairre of the academicfrancaise “System, regime de terreur”. Istilah pada waktu itu memmilliki konotasi positif, yaitu aksi-aksi yang dilakukan untuk menggulingkan penguasa yang lalim.

Pada dasarnya praktek-praktek terorisme sudah terjadi pada abad 66-67 SM, ketika kelompok ekstrim yahudi melakukan berbagai aksi teror termasuk didalamnya aksi pembunuhan terhadap bangsa romawi yang menduduki wilayah mereka. Sejak saat itu aksi-aksi terorismeberkembang di berbagai belahan dunia, yang melibatkan beragam etnik dan agama terus terjadi.

Aksi terorisme di Indonesia memiliki frekwensi yang meningkat setelahkeruntuhan pemerintahan orde baru. Hal itu terlihat dari adanya aksi pengeboman di sejumlah kota seperti: Jakarta, Medan, Surabaya, Makasar dan kotalainya. Diantara aksi terorisme yang paling menyentuh adalah kasus Bom Bali 12 October 2002, yang ditujukakn kepada bangsa barat oleh para pelakunya.

Studi yag dilakukan oleh Pusdehammengkaji secara khusus implikasi bom bali terhadap kehidupan pesantren di jawa timur. Pesantren memang salah satu institusi pendidikan yang paling penting, jumlahnya juga cukup banyak. Lebih dari itu, pelaku bom bali memmiliki keterkaitan dengan pesantren. Setelah tertangkapnya pelaku bom bali, banyak memunculkan pertanyaan. Ada apa dennagan dunia pesantren?, apa hubungan pesantren dengan teroris?[1].

Pembahasan

Bom Bali

 

  1.                   I.            Islam dan Radikalisme

Kehadiran pesantren di Indonesia mampu menjadikan penganut islam di indonesia relatif resisten terhadap penngaruh agama yang di bawa oleh penjajah. Perlawanan-perlawanan lokal terhadap penjajah. Tidak sedikit yang di motori oleh orang-orang dari pesantren. Hal ini tidak berarti bahwa pesantren memiliki potensi bagi lahirnya terorisme. Terorisme agama bisa muncul dari orang-orang atau kelompok-kelompok yang mendalami agama, tetapi itu tidak harus datang dari pesantren. Terorisme agama muncul akibat adanya pemahaman keagamaan yang bercorak scriptual, yakni berdasarkan teks sematatanpa mengaitkanya degan konteks. Pemahaman yang seperti itulah yang melahirkan sikap fanatik dan militan yang berujung pada pandangan hanya dia saja yang paling benar.

Sikap seperti ini belum cukup melahirkan teroris, tetapi sikap itu akan mengarah kepada aksi terorisme ketika terdapat lingkungan sosial politik yang di anggap menekan dan tidak benar. Lingkungan tersebut terkategori sangat buruk sehingga harus dilenyapkan dan digantikan dengan oleh lingkungan sosial politik yang benar-benar diberirahmat oleh tuhan[2].

Mark Juergens Meyermembedakan tiga jenis gerakan ke agamaan yang bisa mengarah kepada aksi terorisme:

  1. a.      Nasionalisme Etnick Keagamaan: Gerakan keagamaanyang berpadu dengan Etnik untuk mewujudkan suatu negara atau kelompok tertentu.
  2. b.      Nasionalisme Ideologis Keagamaan: kelompok ini menjadikan agama sebagai ideologi yang berlawanan dengan ideologi yang sedang berkembang disitu.
  3. c.       Nasionalisme Etnik-Ideologi keagamaan: kelompok ini menggabungkan antara aspek etnik dan ideologi yang di balut unsur keagamaan di dlam gerakanya.

Ada du variabel penjelas utama untuk memahami munculnya gerakan-gerakan radikal di kalangan islam, yaitu faktor dari dalam islam sendiri dan faktor dari luar. Faktor dari dalam ini lebih banyak berkakitan dengan penafsiran konsep jihad yang dipahami oleh sebagian penganut islam. Implementasi konsep jihad lebih banyak dipahami sebagai perang suci. Jihad dipahami sebagai kewajiban setiap muslim untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini melalui kekuatan dan perang. Akibatnya, banyak kaum muslim yang rela sebagai mortir untuk melakukan perang atas nama agama. Sedangkan faktor dari luar bisa dalam bentuk reaksi terhdapmodernisasi yang dilakukan oleh barat terhadap dunia islam . bisa juga, berasaldari dorongan sosial ekonomi internasional yang dianggap tidak adil bagi kaum muslim[3].

  1.                II.            Kronnologi Bom Bali

Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di kota kecamatan Kuta di pulau Bali, Indonesia, mengorbankan 202 orang dan mencederakan 209 yang lain, kebanyakan merupakan wisatawan asing. Peristiwa ini sering dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.

Beberapa orang Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut. Abu Bakar Baashir, yang diduga sebagai salah satu yang terlibat dalam memimpin pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah pada Maret 2005 atas konspirasi serangan bom ini, dan hanya divonis atas pelanggaran keimigrasian.

Pengeboman Bali 2005 adalah sebuah seri pengeboman yang terjadi di Bali pada 1 Oktober 2005. Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.

Pada acara konferensi pers, presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan telah mendapat peringatan mulai bulan Juli 2005 akan adanya serangan terorisme di Indonesia. Namun aparat mungkin menjadi lalai karena pengawasan adanya kenaikan harga BBM, sehingga menjadi kurang peka.

Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai, seorang pejabat anti-terorisme Indonesia melaporkan kepada Associated Press bahwa aksi pengeboman ini jelas merupakan “pekerjaan kaum teroris”.[5]

Serangan ini “menyandang ciri-ciri khas” serangan jaringan teroris Jemaah Islamiyah, sebuah organisasi yang berhubungan dengan Al-Qaeda, yang telah melaksanakan pengeboman di hotel Marriott, Jakarta pada tahun 2003, Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2004, Bom Bali 2002, dan Pengeboman Jakarta 2009. Kelompok teroris Islamis memiliki ciri khas melaksanakan serangan secara beruntun dan pada waktu yang bertepatan seperti pada 11 September 2001.

Pada 10 November 2005, Polri menyebutkan nama dua orang yang telah diidentifikasi sebagai para pelaku:

  • Muhammad Salik Firdaus, dari Cikijing, Majalengka, Jawa Barat – pelaku peledakan di Kafé Nyoman
  • Misno alias Wisnu (30), dari Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah – pelaku peledakan di Kafé Menega

Kemudian pada 19 November 2005, seorang lagi pelaku bernama Ayib Hidayat (25), dari Kampung Pamarikan, Ciamis, Jawa Barat diidentifikasikan.

  1.            III.            Hubugan pelaku Bom Bali dengan NII

Negara Islam Indonesia (NII) sedang jadi sorotan. Tak hanya diduga terkait hilangnya dan praktek pemerasan, organisasi ini juga disebut-sebut terlibat jaringan teror. Meski belum ada bukti kuat, Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin mengungkapkan ada keterkaitan antara NII dengan pelaku aksi teror bom. Yang dia maksud adalah Iqbal, bomber Bom Bali 2002.

Iqbal adalah pelaku bom bunuh diri di Paddy’s Cafe, Kuta 12 Oktober 2002. Dalam surat wasiatnya, Iqbal menyerukan agar keturunan DI/TII membangun kembali kejayaan NII yang digagas oleh Kartosoewiryo. “Suratnya memang isinya seperti itu, menerangkan bahwa ada perlawanan-perlawanan yang diharapkan dari keturunan-keturunan,” ujar Tubagus di DPR RI, Jakarta, Kamis 28 April 2011. Untuk diketahui, kala itu, Tubagus berdinas di TNI, Ia lalu mengutip isi pesan terakhir iqbal: “Ingat wahai para mujahidin, imam kita Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo dulu waktu membangun dan menegakkan sekaligus memproklamirkan kemerdekaan NII dengan darah dan nyawa para syuhada, bukan dengan berleha-leha, santai-santai seperti sekarang. Kalau kalian benar ingin membangun kembali kejayaan NII yang hari ini terkubur, siramlah dengan darah-darah antum agar antum tidak malu dihadapan Allah nanti padahal kalian mengaku sebagai anak-anak dari DI/TII.”

NII ada hubungannya juga dengan para syuhada yang ikut pergi ‘berjihad’ misalnya ke Moro, Afghanistan, dan lain sebagainya. Data mengenai nama-mana keturunan DI/TII dan di mana keberadaan mereka itu pun sudah ada.

  1.            IV.            Pelaku Bom Bali

Dari banyak kalngan termasuk Comander Steven Jackson dari AFP, menyatakan bahwa “dari informasi yang kami terima, mengindikasikan bahwa orang atau kelompok yang bertanggung jawab atas serangan 12 october 2002 adalah sangat terlatih dan terkoordinasi”[4].

Dalam pencarian pelaku pengae boman di bali terjadi silang pendapat. AS dan sekutunya menunjuk Jamaah Islamiyah bahkan mengaitkanya jaringan Al-Qaedah. Tuduhan AS terssebut telah menjadi kontroversi di indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Tapi justru tuduhan tersebut malah menjadi dasar kecurigaan sebagian kalangan akan keterlibatan AS dalam operasi tersebut.

Pandangan tersebut vbanyak di kemukakan aktivis islam, diantaranya adalah Z.A Maulani dan Soeripto. Mereka berpandangan tersebut karena melihat banyak kejanggalan. Sebelum bom meleda k ada kapal AS dan Australia berlabuh di pelabuhan Benoa, Bali. Menurut mereka bom yang digunakan masuk dalam micro nuke atau di kenal dengan special atomic demolition (SADM) yang bahan bakunya adalah Plutonium dan Uranium. Negara-negara yang memilii SADM adalah AS, Inggris, Prancis, Israel dan Rusia. Menurut Joe Vialls seorang ahli bahan peledak mengatakan bahwa tak ada satupun negara muslim yang memiliki bom jenis ini[5].

Dari asumsinya tersebut Soeripto menujuk tiga organisasi intelejen yang mungkin terlibat kasus bom bali, yang mungkin juga beroperasi di Indonesia yang mempunyai skala operasi tinggi dan global. Yaitu: CIA, M16 dan MOSSAD. Jadi tujuan akhirnya untuk menggiring Indonesia masuk perangkap barat agar ikut ambil bagian dalam kam panye dan peranhgf global terhadap terorisme versi barat[6].


[1] Kacung Marijan dan Bahtiar Efendy, Islam Lunak Islam Radikal, pesantren, Terorisme, dan Bom Bali. PusDeHAM dan JP Press Surabaya: Nopember, 2003. Pengantar hlm V-X

[2] Ibid hlm X-XII

[3] Ibid. Muhammad Asfar. hlm 46-48

[4] Ibid. Kompas 2 Nopember 2002

[5] Ibid. Republika 17 October 2002

[6] Ibid. Jawa Pos 14 oktober 2002. Hlm 161

Fakta atau Legenda dari cerita Damar Wulan


Fakta atau legenda
cerita Damarwulan, Menakjinggo dan puti Kencana Wungu
1. Cerita Versi juru kunci
Makam Puteri Campa ternyata letaknya memasuki pemukiman penduduk. Bangunannya masih terawat. Di sana ada tempat tetirahan, makam keluarga Puteri Campa dan abdi kinasih. Sedangkan makam Puteri Campa ada di belakang bersama suaminya, Damarwulan. Ketika jurukunci menyebut nama Damarwulan saya merasa heranan. Rupanya Puteri Campa sebelum menjadi istri Damarwulan telah berdiam di Medan sebagai istri salah seorang pembesar kerajaan. Setelah kerajaan tersebut ditaklukan oleh Majapahit, maka Puteri Campa tersebut menjadi istri Raja Majapahit yang bergelar Brawijaya. Puteri Campa yang merupakan selir raja inilah yang mengandung Raden Patah, raja pertama Kerajaan Demak.
Dikisahkan Damarwulan yang telah beristrikan Anjasmara berhasil mengalahkan Menakjinggo sehingga dinobatkan menjadi Raja Majapahit dan menikah dengan Ratu Kenconowungu. Kekalahan Menakjinggo ini berkat petunjuk dua istri Menakjinggo yang kemudian juga menjadi istri Damarwulan.
Saya masih beranggapan kisah Damarwulan adalah kisah dongeng sehingga masih terheran-heran ketika mendengar dari kisah juru kunci bahwa Damarwulan adalah Brawijaya terakhir yang ditundukkan oleh anaknya sendiri, Raden Patah. Dari kisah sejarah yang masih saya ingat, Prabu Brawijaya kecewa oleh penaklukan anaknya, dan menyatakan bahwa tidak akan ada lagi kerajaan sebesar Majapahit dan Beliau bertitah pada anaknya untuk membiarkannya tetap memeluk agama Hindu.
Menurut juru kunci, Puteri Campa dan suaminya beragama Islam. Menurut pak Koes suaminya masih beragama Hindu, karena saking cintanya dia di makamkan bersama istrinya dan tidak di bakar. Karena pikiran telah bercampur aduk antara khayalan dan realita, saya meragukan kebenaran cerita si juru kunci.
2. Cerita Versi Sri Adi Oetomo (Budayawan & Pemerhati Sejarah Blambangan) .
Menurut ceritera, Prabu Menakjinggo yang dianggap sebagai raja Blambangan yang telah berani meminang Sri Ratu Kencanawungu atau (Prabu Kenya) dianggap kekuasaan serta telah melakukan kejahatan yang berlebih- lebihan, karena maharani Majapahit itu seharusnya dihormati dan dimuliakannya sebagai Ratunya. Sedang kedua permaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan juga dilukiskan sebagai wanita pengkhianat yang tidak memiliki kesetiaan terhadap suami dan negara. Itulah sebabnya kerajaan yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo dianggap sebagai lambang kejahatan yang disebut “Kerajaan Blambangan”.
Sementara itu ceritera Menakjinggo Damarwulan yang bersumber dari luar daerah Blambangan, maksudnya baik bersumber dari Serat Damarwulan dan Serat Kandha maupun dari Kesenian Langendriyan, lukisan ceriteranya selalu memburuk-burukkan pihak Blambangan, terutama tindakan Prabu Menakjinggo dan perilaku kedua perilmaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan beserta para narapraja dari kerajaan ini. Dalam hal ini jelas bertentangan dengan fakta sejarah, khususnya berbagai peristiwa sejarah yang pernah mewarnai jalannya sejarah Blambangan.
Sebagaimana tersebut di atas bahwa karena perilaku jahat yang berlebih-lebihan yang dilakukan oleh Prabu Menakjinggo beserta kedua permaisuri dan para naraprajanya, sehingga menimbulkan tafsiran bahwa kerajaan yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo hanya sebagai perlambang tempat kejahatan yang disebut kerajaan Blambangan, ternyata mengandung makna dan mencakup berbagai hal yang jahat jahat saja. Padahal tafsiran semacam itu juga sangat bertentangan dengan keadaan Blambangan yang sebenarnya, bahkan seharusnya “Blambangan” itu sebagai perlambang kebaikan.
Sampai saat ini masyarakat di tanah air, khususnya masyarakat Banyuwangi ternyata banyak yang masih awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai sejarah ini.
Itulah sebabnya berkat kepopuleran Legenda Menakjinggo atau ceritera Menakjinggo Damarwulan, rakyat Blambangan ternyata tidak sedikit yang beranggapan bahwa sebagian lukisan ceriteranya, terutama keberadaan dan peran Menakjinggo diyakini sebagai peristiwa sejarah yang benar-benar pernah terjadi di bumi Blambangan di masa silam. Lebih dari itu sebagaimana telah Menakjinggo ditokohkan sebagai raja Blambangan, bahkan dianggapnya sebagai leluhur dan pahlawan Blambangan. Anggapan dan kepercayaan semacam itu ternyata telah berakar kuat di hati masyarakat, khususnya di hati masyarakat di kawasan ujung paling Timur pulau Jawa ini.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara tepat atau paling tidak sudah mendekati kebenaran faktanya, perlu dibuktikan dengan mempelajari secara seksama berbagai buku sejarah, terutama sejarah Blambangan dan khususnya berbagai buku Babad Blambangan. Padahal dalam berbagai buku sejarah, khususnya sejarah Blambangan ternyata tidak pernah diketemukan nama atau sebutan Menakjinggo yang dimaksud. Memang, sebagaimana yang pernah diketengahkan bahwa sebutan Menakjinggo, terutama asal-usulnya dapat ditelusuri dan diketemukan dalam dua buah “Dongeng Rakyat” (Folklore), akan tetapi diantara satu sumber itu dengan yang sumber terdapat perbedaan yang cukup mendasar mengenai riwayat hidup dan peran Menakjinggo dalam uraian ceriteranya. Dongeng rakyat yang disebut “Bambang Menak”, mengisahkan asal usul Menakjinggo, yakni merupakan (keturunan) dari Adipati Macuet atau (Adipati Jinggo) dari Gua Siluman hasil perkawinannya dengan Putri Tunjungsari dari pedepokan Wendit. Putra Sang Adipati ini ketika masih bocah diberi nama “Bambang Menak” yang ternyata diasuh oleh Ki Hajar Pamengger di pedepokan Gunung Pipit. Setelah menduduki jabatan Adipati Gua Siluman, Bambang Menak bergelar Adipati Menakjinggo. Gelarnya itu ternyata merupakan perpaduan dari dua nama yang diambil dari namanya sendiri, yakni Bambang Menak dan nama ayah kandungnya yang pada waktu itu menjadi musuh dan dapat dibunuhnya, yakni Adipati Jinggo atau Adipati Macuet dari Gua Siluman.
Dari satu sumber lain, yakni ceritera Kebomarcuet dengan Dongeng Jaka Umbaran mengisahkan antara lain bahwa Menak Subali Patih Majapahit yang mengadakan pemberontakan terhadap Prabu Bhrawijaya ternyata dapat ditundukkan dan dibunuh oleh Kebomarcuet utusan Majapahit yang berasal dari Alas Purwa. Ki Patih Menak Subali yang tewas di medan laga dengan meninggalkan seorang isteri yang bernama Jinggowati sedang mengandung tua. Setelah melahirkan, putra mendiang Ki Patih itu diberi nama Jaka Umbaran yang selanjutnya diasuh oleh Ki Ajar Pamengger. Setelah dewasa, Jaka Umbaran menuntut balas atas kematian mendiang ayahnya dan berhasil membunuh Kebomarcuet, yang selanjutnya juga meneruskan perlawanan terhadap Majapahit dengan maksud untuk menuntut balas atas kematian ayahnya pula kepada Prabu Bhrawijaya. Sebelum mengadakan perlawanan terhadap Majapahit, untuk menyeimbangkan kedudukannya, Jaka Umbaran mengangkat dirinya sebagai raja Blambangan dengan gelar Prabu Menakjinggo yang juga dikenal dengan sebutan Prabu Urubisma. Sedang gelarnya Prabu Menakjinggo itu juga ternyata merupakan perpaduan dari dua nama yang diambil dari nama mendiang ayahnya, yaitu Patih Menak Subali dan nama ibunya Jinggowati
Sebagaimana yang pernah diketengahkan bahwa asal-usul Menakjinggo yang bersumber dari buku “Babad Mas Sepuh” suntingan Winarsih Partaningrat Arifin dari Babad Blambangan, Edisi : Ecole Prancaise de ‘Extreme-Orient, YBB. 024.95 Jogyakarta, Desember 1995, dalam “Ringkasan Babad Mas Sepuh”, halaman 127 ternyata mengungkapkan antara lain bahwa Pangeran Danureja yang telah menjadi raja Blambangan, setelah lama bertapa mempunyai anak yang diberi nama “Pangeran Menakjinggo” yang juga disebut “Pangeran Mas Sepuh.” Pada halaman tersebut ternyata terdapat “Footnote” yang pada No. I menerangkan antaralain “Jadi nama resmi anak Pangeran Danureja memang Pangeran Menakjinggo” (dalam Babad Wilis disebut Pangeran Jinggo). Sedang sebutan Pangeran Mas Sepuh sebenarnya hanya dipakai orang-orang Bali saja. Di samping itu ternyata masih terdapat buku Babad Natadiningrat (KBG. 607) juga suntingan Winarsih Partaningrat Arifin yang serupa dengan tersebut di atas, pada halaman 247 dan seterusnya dalam mengungkap tentang asal-usul Menakjinggo ternyata mirip sekali dengan uraian mengenai asal-usul Menakjinggo yang bersumber dari Serat Kandha yang Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Serat Kandha yang sebutan lengkapnya “Serat Kandhaning Ringgit Purwa” Asmaradana pupuh CCCLXXXV, 38 pada gatra (bait) 25 sampai dengan 33 (sembilan bait) yang mengungkapkan tentang asal usul Menakjinggo pada intinya jika disimpulkan antara lain bahwa Adipati pamengger dari Blambangan merasa masygul hatinya setelah diundang dan menghadiri upacara wisuda Dewi Kencanawungu menjadi maharani Majapahit dengan gelar Prabu Kenya. Sang Adipati merasa sangat kecewa megapa selama itu tidak dianugerahi anak seorang pun. Padahal Dewi Kencanawungu anak perempuan saja ternyata dapat diwisuda oleh ayahnya Prabu Bhrawijaya sebagai raja Majapahit. Dalam merupakan masalah tersebut, Adipati Pamengger tidak didampingi seorang pun baik dari keluarga Kadipaten Blambangan maupun narapraja yang lain, kecuali seekor anjing berwarna merah yang sangat setia mendampingi Ratu Gustinya. Anjing merah milik Adipati Blambangan itu di samping sangat setia ternyata memiliki pengertian layaknya manusia, terutama terhadap Sang Adipati. Dalam hal ini menyebabkan Adipati Pamengger mohon kepada Yang Maha Agung, seandainya anjingnya yang merah itu dapat berubah menjadi manusia pasti akan diambil sebagai putra angkat dan kelak pasti akan diwisuda sebagai Adipati Blambangan untuk menggantikan kedudukannya.
Dalam kisah tersebut, permohonan Adipati pamengger ternyata terkabul dan anjingnya yang sangat setia itu berubah menjadi manusia yang langsung bersembah kepada Sang Adipati. Sayang sekali, manusia yang berasal dari anjing itu tetap bertampang buruk dan wajahnya tetap bermoncong seperti anjing. Sebenarnya Adipati Pamengger sangat menyesal permohonannya itu, akan tetapi setelah berpikir secara mendalam bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak dan kekuasaan dari Yang Maha Pencipta, Sang Adipati segera memeluk serta memandikan bocah itu dengan memberikan tuah dari pusakanya “Besi Kuning” kemudian memberi nama kepada putra angkatnya itu dengan sebutan “Pangeran Menakjinggo,” yang juga dijanjikan kelak akan diwisuda sebagai Adipati Blambangan untuk menggantikan kedudukan Sang Adipati. Sedang anak angkatnya Pangeran Menakjinggo akan mentaati segala perintah dan petunjuk ayah angkatnya. Setelah diwisuda menjadi Adipati Blambangan, Sang Adipati ternyata mempersunting kedua wanita rupawan dari Baliga dan Bangkalan, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan sebagai permaisurinya. Kendati demikian Adipati Menakjinggo masih bermaksud untuk meminang Sri Ratu Kencanawungu Maharani Majapahit untuk dijadikan pendampingnya. Untuk menyeimbangkan kedudukannya, Sang Adipati mengangkat dirinya sebagai raja Blambangan dengan gelar Prabu Menakjinggo yang juga terkenal dengan gelar Prabu Urubismo. Dalam hal ini ayah angkatnya tidak merestuinya, bahkan mencegah maksud Prabu Menakjinggo untuk mempersunting Maharani Majapahit, namun raja Blambangan itu tidak mempedulikan nasihat ayah angkatnya. Itulah sebabnya Ki Pamengger ternyata meninggalkan istana Blambangan untuk bertapa di suatu pegunungan yang akhirnya menjadi pertapa sakti dengan sebutan Ki Ajar Pamengger.
Semua uraian di atas, terutama tentang asal usul Menakjinggo jika disimak secara seksama, telah menunjukkan dengan jelas bahwa keberadaan Menakjinggo saja sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mana mungkin seorang manusia dari beberapa pasangan suami-isteri, bahkan juga dikisahkan bahwa Menakjinggo itu dicipta dan berasal dari seekor anjing merah. Sedang Pangeran Menakjinggo yang asal-usulnya bersumber dari Babad Blambangan (Babad Mas Sepuh) Yakni sebagai putra Pangeran Danurejo raja Blambangan, riwayat hidup dan perannya dalam perjalanan sejarah Blambangan masih perlu dipertanyakan. Benarkah Pangeran Menakjinggo itu idektik dengan Pangeran Mas sepuh yang dalam Babad Wilis disebut Pangeran Jinggo dan dalam Babad Blambangan dikenal dengan sebutan Pangeran Prabu atau Pangeran Pati II, sedangkan dalam Babad Tawang Alun banyak disebut-sebut sebagai Panger•an Danuningran atau Pangeran Mangkuningrat? Dalam hal ini mengingat bahwa Pangeran Jinggo (Pangeran Mas Sepuh = Pangeran Pati II = Pangeran Danuningrat = Pangeran Mangkuningrat) merupakan raja Blambangan
terakhir (putra PrabuDanurejo) yang memerintah pada tahun 1736 -1764 itu pernah menodai perjalanan sejarah Blambangan, karena Sang prabu satu-satunya raja Blambangan yang pernah bekerjasama dengan Kompeni Belanda, sehingga Prabu Danuningrat terpaksa ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dan pada tahun 1766 dibunuh di pantai Seseh/Bali.
Para Menakjinggo tersebut di atas kecuali yang dibunuh di pantai Seseh tersebul, memiliki tindakan dan peran yang serupa, walaupun asal usul masing-masing Menakjinggo itu terdapat perbedaan cukup mendasar. Semua Menakjinggo itu ternyata terlibat peperangan dengan Majapahit yang berakhir bahwa masing-masing Menakjinggo dapat dibunuh dan dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan utusan Majapahit. Berkat keberhasilannya dalam menumpas pemberontakan di Blambangan Raden Damarwulan dijodohkan dengan Sri Ratu Kencanawunggu dan menggantikan ke dudukannya sebagai raja Majapahit dengan gelar Prabu Bhrawijaya VI (Prabu Mertawijaya). Kendati demikian yang sangat menarik perhatian dalam peperangan antara Blambangan clan Majapahit itu, masing-masing Menakjinggo yang melawan Majapahit itu memiliki motif (sebab-musababnya) berbeda-beda pula. Dengan demikian cukup jelas bahwa keberadaan dan peran Menakjinggo dalam perjalanan sejarah nasional tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, tegasnya Menakjinggo hanya sebagai tokoh fiktif dalam perjalanan sejarah Blambangan.
3. Tokoh Kencana Wungu dalam kisah Damarwulan
Fakta Ratu Majapahit dalam cerita Damar Wulan, Prabu Kenya-dalam cerita biasanya disebut Kencana Wungu-dikaitkan dengan Suhita. Karena itu, Brandes mengaitkan peperangan antara Majapahit dengan Menakjinggo ini dengan Perang Puregreg. Sedangkan ilmuwan lain mengaitkan sosok Ratu Majapahit itu dengan Tribhuwanotunggawijayaawisynuwardhani, dan cerita tentang Perang Blambangan dikaitkan dengan peristiwa Perang Sadeng (lebih lengkapnya lihat CC Berg, Penulisan Sejarah Jawa, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1985, halaman 90-92).
komparasi dan kontras itu dimulai dari fakta Patih Udara mundur, melepaskan diri dari fatamorgana kekuasaan dunia dan masih tetap memegang wibawa pemimpin dan pamor kekuasaan. Setidaknya, kalau dibandingkan dengan Patih Logender, tokoh yang ketiban pulung memegang kekuasaan, tetapi tidak memiliki wibawa pemimpin dan pamor kekuasaan, sehingga kraton dipenuhi pamong yang pandai menjilat dan cuma memperjuangkan kepentingan golongan dan pribadi. Puncaknya, terutama ketika ada ancaman aneksasi oleh Blambangan dengan kedok lamaran Menakjinggo. Jalan keluar dari krisis itu menggelikan, yaitu menyelenggarakan sayembara. Dengan kata lain, memberikan kerajaan dan dirinya kepada sembarang lelaki yang mampu mengalahkan Menakinggo. Jalan keluar yang mengelucak harga diri.
Oleh karena itu, fakta sayembara berhadiah “takhta dan wanodya” ini menunjukkan adanya sebuah fenomena besar di belakang layar. Bahwa Kencana Wungu tak bisa lagi mempercayai pamong dan prajuritnya, sekaligus menggarisbawahi sosok Kencana Wungu yang subordinan meski secara politik dia pemegang kekuasaan tertinggi.
Raja perempuan yang lain adalah Dewi Suhita, yang naik tahta seabad sesudahnya yaitu pada tahun 1429. Ia menggantikan ayahnya Wikramawardana yang konon sempat memilih hidup sebagai seorang brahmana. Jika yang dimaksud dengan Kencanawungu adalah Suhita atau Tribuanatunggadewi maka jelas bahwa Ranggalawe yang diceritakan dalam Serat Damarwulan ini bukanlah Ranggalawe dalam pemberontakan melawan Majapahit, karena meraka hidup di jaman yang berbeda. Ranggalawe gugur pada tahun 1309 sedangkan Tribuanatunggadewi baru memerintah pada tahun 1328 dan Dewi Suhita baru memerintah pada tahun 1429.
Bagaimana dengan tokoh Menakjingga, Adipati Blambangan yang dalam Serat Damarwulan diceritakan diperangi oleh Majapahit karena memberontak dan ingin meminang Kencanawungu. Benarkah Menakjingga tak lain adalah Bhre Wirabumi seperti yang diduga oleh Pigeaud dan Brandes?
Jadi jelas bahwa motif pemberontakan Bhre Wirabumi adalah perebutan tahta, sedangkan dalam Serat Damarwulan diceritakan bahwa motif pemberontakan Menakjingga adalah karena Kencanawungu menolak lamarannya. Jika Bhre Wirabumi adalah Menakjingga, tampaknya agak aneh karena dengan demikian ia bermaksud mempersunting cucunya sendiri.
Kejanggalan lain adalah masalah temporal. Seperti disebut di atas bahwa Dewi Suhita baru memerintah pada tahun 1429 setelah ayahnya Wikramawardana mangkat. Kemungkinan besar bahwa niat Wikramawardana untuk mengangkat Dewi Suhita menggantikan dirinya pada tahun 1400 itu diurungkan setelah terjadi pemberontakan itu, dan putrinya baru benar-benar menjadi raja setelah ia meninggal. Dengan demikian sulit dipahami jika Bhre Wirabumi adalah sama dengan Menak Jingga karena Bhre Wirabumi yang gugur pada saat Perang Paregreg (1404-1406) terjadi pada masa pemerintahan Wikramawardana, sedangkan dalam Serat Damarwulan disebutkan bahwa Menakjingga tewas pada masa pemerintahan Kencanawungu atau Dewi Suhita. Hal ini sekaligus untuk memperjelas lagi bahwa Kencana Wungu dan Suhita sulit untuk diasosiasikan .
4. Tokoh damar wulan
Bagaimana dengan tokoh Damarwulan? Benarkan ia sebenarnya adalah Raden Gadjah seperti yang dikemukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Dalam sejarah Perang Paregrek diceritakan bahwa pada awalnya pasukan Majapahit mengalami kekalahan. Kemudian diutuslah Raden Gadjah sebagai panglima perang. Raden Gadjah berhasil mengusir pasukan Blambangan dan membunuh Brhe Wirabumi pada saat ia ingin melarikan diri dengan menumpang sebuah perahu. Raden Gadjah kemudian memenggal kepala Bhre Wirabumi dan dibawa ke Majapahit. Seperti dijelaskan sebelumnya peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Wikramawardana. Hal yang menarik adalah bahwa pada tahun 1433, pada masa pemerintahan Dewi Suhita (1429-1447), Raden Gadjah dihukum mati sebagai pembalasan atas kematian Bhre Wirabumi.
Berdasarkan fakta-fakta di atas maka sulit dipahami jika Raden Gadjah ini disamakan dengan Damarwulan. Karena dalam Serat Damarwulan diceritakan bahwa setelah berhasil membunuh Menak Jingga ia dinobatkan menjadi Raja Majapahit dan mempersunting Kencanawungu sebagai permaisurinya. Hal ini tidak terjadi pada fakta-fakta yang ada tentang riwayat Raden Gadjah. Fakta lain yang dapat membantah asosiasi Raden Dadjah-Damarwulan ini disebutkan bahwa suami Dewi Suhita bukanlah Raden Gadjah tetapi Bhre Prameswara. Apakah Brhe Prameswara ini adalah nama lain dari Raden Gadjah? Tampaknya juga bukan, karena disebutkan bahwa Raden Gadjah dihukum mati pada tahun 1433, sedangkan Bhre Prameswara baru mangkat 13 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1446.
Stutterheim memiliki pandangan lain, bahwa Damarwulan adalah Kertawardana, suami Tribuanatunggadewi yang diasosiasikan dengan Kencanawungu, sedangkan Menakjingga adalah adipati Sadeng. Pendapat Stutterheim ini didasarkan pada Serat Pararaton, dimana didalamnya menyebut Anjasmara sebagai selir Kertawardana. Dalam serat Damarwulan Anjasmara adalah selir Damarwulan, putri Patih Majapahit, Logender, dan memiliki saudara kembar bernama Layangseta dan Layangkumitir.
Pendapat Sutterheim ini mengandung beberapa permasalahan. Memang pada masa pemerintahan Tribuanatunggadewi, Majapahit pernah menghadapi pemberontakan dari Sadeng yang terletak di Besuki yang juga wilayah kekuasaan Blambangan. Namun pemberontakan ini dapat segera dipadamkan karena kecakapan Patih Gadjah Mada. Dalam menumpas pemberontakan Sadeng ini ada persaingan antara Patih Gadjah Mada dengan seorang tokoh yang bernama Ra Kembar. Ra kembar sangat iri kepada Gadjah Mada yang diberi kepercayaan Ratu untuk menumpas pemberontakan ini. Oleh karena itu iapun melakukan upaya-upaya untuk mendapatkan perhatian ratu dengan ikut terlibat dalam penumpasan pemberontakan Sadeng ini. Di akhir pemberontakan Sadeng terjadi duel antara Gadjah Mada dan Ra Kembar yang kemudian ditandai sebagai sebuah episode terpenting dari sejarah Majapahit, karena dalam peristiwa itulah sumpah Gadjah Mada yang terkenal, “Sumpah Palapa” diucapkan. Dalam duel ini Gadjah Mada berhasil mengalahkan Ra Kembar, dan atas jasa-jasanya ia diangkat sebagai Patih Majapahit.
5. KESIMPULAN.
Berdasarkan keterangan di atas cerita Damarwulan, Menakjinggo dan Kencana Wungu kemungkinan memang benar-benar terjadi tapi cerita itu mengalami perubahan, dalam cerita tersebut banyak bagian yang tidak bisa di terima oleh akal, dalam cerita tersebut juga banyak sekali perbedaan antara cerita versi Majapahit dan Blambangan, kemungkinan cerita itu dibuat oleh para pujangga istana untuk menjaga nama penguasanya hal ini biasanya dinamakan Pujosastro.
Cerita-cerita sejarah di Jawa kebanyakan tidak di jelaskan bersama tahunya, jadi sejarah tersebut sangat sulit sekali untuk di lacak kebenarannya. tapi dari upaya-upaya perbandingan di atas maka dapat disimpulkan bahwa rupanya akan sia-sia untuk memaksakan bahwa tokoh-tokoh yang disebutkan dalam Serat Damarwulan, termasuk Adipati Ranggalawe dalam cerita itu, adalah tokoh-tokoh yang tak pernah ada dalam sejarah. Dengan kata lain Serat Damarwulan adalah cerita rekaan saja yang diasosiasikan dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi selama periode kejayaan Majapahit.